Cari berdasarkan:



Kesaksian Wakil Kompandan Tjakrabirawa: Dari Revolusi 45 Sampai Kudeta 66


Kesaksian Wakil Kompandan Tjakrabirawa: Dari Revolusi 45 Sampai Kudeta 66   
oleh: H. Maulwi Saelan
> Sejarah
> Politik & Hukum » Sosial & Politik

Penerbit :    Visimediapustaka
Edisi :    Soft Cover
ISBN :    979-104-399-X
Tgl Penerbitan :    April 2008
Bahasa :    Indonesia
 
Ukuran :    15 x 23 cm
Sinopsis Buku:
Buku ini adalah sekadar catatan perjalanan hidup dengan romantikanya, bukan otobiografi seperti yang biasa kita kenal yang dibuat untuk orang-orang terkenal atau merasa terkenal.
Tentu saja buku ini diharapkan bisa mempunyai manfaat untuk disimak, karena berkaitan erat dengan revolusi fisik bangsa Indo¬nesia, bahkan berkaitan langsung dengan Pemimpin Besar Revolusi itu sendiri, BUNG KARNO.
Mungkin yang paling mengesankan dari kisah perjalanan hidup ini, ialah hari-hari terakhir bersama Bung Karno, yang dipenuhi hujatan dan penghinaan semena-mena, yang dilemparkan oleh “pahlawan-pahlawan Orde Baru” ditujukan kepada Bapak Bangsa, Bung Karno, yang jasa-jasanya sangat dimengerti oleh semua orang.
Pada periode penghujatan dan penghinaan, segera kelihatan bagaimana bangsa Indonesia yang terkenal lemah-lembut dan sopan santun, tiba-tiba saja berubah menjadi biadab, mudah meludahi muka orang untuk menghina, padahal seharusnya dihormati, hanya karena kebencian yang sudah merasuk. Dengan tudingan kesalahan yang tidak pernah dibuktikan secara hukum, Bung Karno ditumbangkan lewat mengobarkan semangat kebencian atas dirinya. (H. Maulwi Saelan)

Saelan, percayalah! Saya yakin nanti sejarah akan mengungkapkan kebenaran dan siapa yang sebetulnya benar, Soeharto atau Soekarno! (Bung Karno)

"Kalau pemerintah tidak akan membubarkan HMI, maka janganlah kalian berteriak-teriak menuntut pembubaran HMI. Lebih baik kalian bubarkan sendiri. Dan kalau kalian tak mampu melakukan itu, lebih baik kalian jangan pakai celana lagi, tapi tukar saja dengan sarung!" (DN Aidit)

Bung Karno meninggalkan Istana sebelum 16 Agustus 1967, keluar hanya memakai celana piyama warna krem dan kaos oblong cap cabe. Baju piyamanya disampirkan di pundak, memakai sandal cap Bata yang sudah usang. Tangan kanannya memegang kertas koran yang digulung agak besar, isinya Bendera Pusaka Sang Saka Merah Putih. (Sogol Djauhari Abdul Muchid, anggota DKP)

"De Belandas hebben mij nog goed behandelt, maar, bangsa sendiri begitu kasar dan kejam. Is dit als dank dat ik gekregen heb, voor wat ik gedaan heb voor mijn volk en vanderland. Ik kan dit alles maar niet begrijpen. Apakah ini bentuk terima kasih yang kudapat atas apa yang telah kulakukan untuk rakyat dan Tanah Air? Aku tidak bisa mengerti semua ini. Ik wou maar dat ik de schot krijgt. Aku ingin agar aku ditembak saja." (Bung Karno)




Resensi Buku:
Jadilah yang pertama untuk meresensi buku ini!



Buku Sejenis Lainnya:
oleh Colin Hynson
Rp 27.500
Rp 23.375
Perang Dunia II adalah perang terbesar dan paling parah dalam sejarah umat manusia. Perang ini dimulai pada tanggal 1 September 1939, saat Jerman ...  [selengkapnya]
oleh Youngjin Singapore
Rp 45.000
Rp 38.250
Mohandas Karamchand Gandhi, yang lebih kita kenal sebagai Mahatma Gandhi lahir di Gujarat, India, dan dibesarkan dalam keluarga yang konservatif. ...  [selengkapnya]
oleh Abdul Nasier
Rp 55.000
Rp 46.750
Sejak dibukanya Perwakilan Republik Indonesia di Cape Town, Afrika Selatan, banyak hal yang perlu dikemukakan secara terbuka kepada khalayak umum. ...  [selengkapnya]
oleh Fernando R. Srivanto
Rp 30.000
Rp 25.500
Buku Gank of Nazi ini ini bertutur tentang kisah 12 orang terdekat Hitler, yang tidak hanya menjadi pilar utama kekuatan Nazi, namun juga (beberapa ...  [selengkapnya]


Lihat semua buku sejenis »




Advertisement