normal
15%
OFF
Tambah ke Keranjang Belanja
Atau
Tambah ke Daftar Keinginan

Lopa Yang Tak Terlupa (Soft Cover)
oleh Alif we Onggang

Harga Resmi : Rp. 82.000
Harga : Rp. 69.700 (15% OFF)

Ketersediaan : Stok Tersedia. Dikirim dalam 24 jam

Format : Soft Cover
ISBN : 6027926449
ISBN13 : 9786027926448
Tanggal Terbit : 12 November 2018
Bahasa : Indonesia
Penerbit : Pustaka IIman



Deskripsi:

Indonesia tidak seharusnya melupakan Baharuddin Lopa. Ia adalah seorang pendekar hukum yang tak pernah lupa. Lopa tak pernah alpa pada tanggung jawabnya sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang harus menjalankan perintah-Nya untuk menebarkan kebaikan sesuai dengan peran yang diemban. Maka, Lopa tak pernah lupa bahwa ia adalah penegak hukum yang memiliki tanggung jawab penuh menegakkan keadilan di muka bumi ini. Bila sudah menyinggung tentang hukum dan keadilan, jangan berharap datang kompromi darinya. Sekali lagi, karena Lopa tak pernah lupa pada tanggung jawabnya.

Namun bangsa ini, kini, gampang lupa. Penyimpangan-penyimpangan kembali bertumbuhan seiring kepergian Lopa. Maka, untuk mewujudkan cita-cita negeri yang damai dan adil, marilah Indonesia, jangan kita melupakan keteladanan yang ditabur oleh Baharuddin Lopa.

 

Endorsement:

 

“Berintegritas, pintar, dan berani.”

—K.H. Abdurrahman Wahid,, Presiden ke-4 Republik Indonesia

 

“Pak Lopa sebagai Guru Besar Tidak Tetap Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta mendapat Anugerah UII (UII Award) yang pertama, karena dinilai memiliki integritas dan menjadi teladan dalam penegakan hukum di Indonesia.”

—Artidjo Alkostar, Dosen Fakultas Hukum UII Yogyakarta, Hakim Agung (2000-2018),

Ketua Kamar Pidana Mahkamah Agung RI (2007-20018)

 

“Ibarat tinju, kita terkena hook di dagu. Pukulan ini biasanya membuat KO. Itulah rasanya yang menimpa kita ditinggalkan Baharuddin Lopa. Dia pergi pada saat kita membutuhkannya, pada saat dirinya mendapatkan kesempatan untuk memulai perjuangan besar, dambaan hidupnya: menegakkan hukum. Mungkin Lopa sendiri pergi dengan pedih, bukan karena mendadak dipanggil Tuhan, melainkan karena kecemasan akan berlanjutnya kesemrawutan hukum di tengah bangsanya. Lopa memang bukan satu-satunya harapan. Tetapi, rasanya, dia adalah ujung tombak. Ketika ujung tombak ini patah, masihkah ada harapan untuk menegakkan hukum yang sudah begini parah?”

—Rakyat Merdeka, 5 Juli 2001


Kategori dan Rangking Bestseller:

Review Konsumen:
5 -
4 -
3 -
2 -
1 -
Jadilah yang Pertama untuk Review
Tulis Review Anda
Tulis Review Anda