| Soft Cover, April 2013 | |||||
|
Stock tidak tersedia
|
|||||
2.
| Hardcover, 2011 | Rp. 280.000 | Rp. 224.000 (20% OFF) | |
|
Stock di Gudang Supplier
|
|||
Dalam Pemikiran Militer 3, Hario Kecik secara ilmiah, jujur, dan jelas menerangkan tentang beberapa kejadian atau problema sejarah Indonesia, yang sampai sekarang belum terungkap atau disoroti. Ia melihatnya dari sudut pandang filosofi-militer, psikologi-sosial, etika-kepemimpinan dan politik. Tidak hanya tentang mengapanya, tapi juga tentang akibat jangka pendek dan jangka panjang sejarah bangsa kita ini, dan juga dampaknya pada jiwa para pemimpin yang menjalankan perbuatan itu ...
3.
| Hard Cover, 2011 | Rp. 280.000 | Rp. 224.000 (20% OFF) | |
|
Stock di Gudang Supplier
|
|||
Mantan Jendral Soehario Koesnender Padmodiwirio alis Hario Kecik (nama revolusi 45-nya) sebagai penulis Buku Pemikiran Militer jilid-4 ini menyatakan bahwa buku ini sebaiknya dipandang sebagai kelanjutan dari buku-buku PM jilid-1,2,3. Jadi boleh dikatakan bahwa semua buu-buku itu merupakan suatu "kesatuan integral" dari pemikiran Hario Kecik mengenai sejarah Militer bangsa Indonesia. Hario Kecik dalam mulai menulis ternyata dapat tetap memegang teguh "ethics revolusi 45" sebagai Pejuang ...
4.
| Hard Cover, 2009 | Rp. 280.000 | Rp. 224.000 (20% OFF) | |
|
Stock di Gudang Supplier
|
|||
Melalui tulisan memoir yang unik ini, Hario Kecik secara berani menggunakan pendekatan -Multidisipliner- dan dialektis-historis menjawab sekaligus mengapa pemberontakan bangsa kita selalu gagal melawan VOC masa lalu, mengapa sekarang korupsi di pemerintahan merajalela di kalangan pejabat di lembaga atas negara, mengapa lebih dari 50 partai politik ikut pemilu 2009, mengapa beberapa mantan jenderal TNI merasa terpanggil dan mampu menjadi presiden RI dengan penduduk 250 juta, suatu loncatan besar ...
5.
| Hard Cover, 2009 | Rp. 280.000 | Rp. 224.000 (20% OFF) | |
|
Stock di Gudang Supplier
|
|||
Para pejuang bersenjata dan tentara RI meneruskan perlawanan dalam bentuk Perang Gerilya. Penulis menguraikan adanya kontradiksi di dalam pimpinan tentara Belanda KNIL yang fatal bagi berlangsungnya strategi Belanda selanjutnya. Ia juga menyoroti perbedaan pemikiran militer Jenderal Oerip Soemohardjo dengan Kolonel A.H Nasution dan TB. Simatupang, ketiganya adalah bekas opsir KNIL. Jenderal Oerip dalam masalah ini lebih jujur dalam mengutarakan pikirannya dan dengan jelas diuraikan oleh Hario ...




Keranjang


