| Soft Cover, Desember 2011 | |||||
|
Stock tidak tersedia
|
|||||
42.
43.
| Soft Cover, Maret 2016 | |||||
|
Stock tidak tersedia
|
|||||
This book discuss the way Japan responded the uncertain political situation in Indonesia after September 30 Incident from various aspects: not only government but also media, Japanese community in Indonesia, Indonesian community in Japan, and Japan Communist Party. Also response by Dewi Sukarno was introduced. By analyzing the situation from all those aspects we could learn how intensively Japan was related to the political development of Indonesia those days. Kurasawa Aiko. Born in Osaka Japan ...
44.
| Soft Cover, Desember 2012 | |||||
|
Stock tidak tersedia
|
|||||
"""Yang sakit itu Soedirman, tapi Panglima Besar tidak pernahsakit.” Pagi itu, 19 Desember 1948, Panglima Besar bangkit dan memutuskan memimpin pasukan keluar dari Yogyakarta, mengkonsolidasikan tentara,dan mempertahankan Republik dengan bergerilya.
Panglima Besar sudah terikat sumpah: haram menyerah bagi tentara. Karena ikrar inilah Soedirman menolak bujukan Sukarno untuk berdiam di Yogyakarta. Dengan separuh paru-paru, ia memimpin gerilya. Selama delapan bulan, dengan ditandu, ia ...
46.
| Soft Cover, Oktober 2016 | |||||
|
Stock tidak tersedia
|
|||||
JIKA masih hidup, dan diminta melukiskan situasi sekarang, Mohammad Hatta hanya perlu men cetak ulang tulisannya yang terbit pada 1962: “Pembangunan tak berjalan sebagaimana semes ti nya.... Perkembangan demokrasi pun telantar karena per cekcokan politik senantiasa. Pelaksanaan otono mi daerah terlalu lamban sehingga memicu pergolakan daerah”.
Demokrasi dapat berjalan baik, menurut Hatta, jika ada rasa tanggung jawab dan toleransi di kalangan pemimpin politik. Sebaliknya, kata dia, ...
47.
| Soft Cover, Oktober 2016 | |||||
|
Stock tidak tersedia
|
|||||
Berasal dari keluarga abangan, Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo menjadi pemimpin pemberontakan Darul Islam. Berbekal pengetahuan agama Islam yang digalinya secara otodidak, Kartosoewirjo memberontak demi cita -cita negara Islam. Toh, pemberontakannya telah ikut mewarnai sejarah pembentukan Republik yang masih berusia muda.
Hampir lima puluh tahun setelah kematiannya, pemikiran dan cita cita mendirikan negara Islam masih bergelora di kalangan sebagian umat Islam negeri ini dan masih terus ...
48.
| Soft Cover, Januari 2014 | Rp. 99.900 | Rp. 79.920 (20% OFF) | |
|
Stock di Gudang Supplier
|
|||
Melalui pecahan-pecahan situs maupun berbagai catatan yang berhasil dan semakin banyak diketemukan tentang Nusantara sekurang-kurangnya cukup apabila hanya untuk membuktikan adanya tamadun yang setanding dengan keemasan Persia, Cina, Romawi, hingga kebesaran Abassiyah dan Turki Osmani. Pada masanya dulu, leluhur orang Nusantara adalah suatu masyarakat dengan pencapaian budaya amat mengagumkan. Dan, oleh karena itu mustahil apabila kerajaan-kerajaan di Nusantara dulu hanya menjadi penonton yang ...
49.
| Soft Cover, Oktober 2016 | |||||
|
Stock tidak tersedia
|
|||||
Teungku Daud Beureueh, ulama dan tokoh masyarakat karismatik Aceh, mengangkat senjata melawan pemerintah pusat pada 1953. Lalu perang datang silih berganti di Tanah Rencong hingga pergantian abad.
Sungguh ironis. Teungku Daud adalah orang yang menyambut proklamasi kemerdekaan Indonesia 1945 dengan sumpah setia. Ia mencintai Indonesia merdeka: dihimpunnya dana masyarakat Aceh untuk membiayai perjuangan militer dan diplomatik RI melawan tekanan Belanda. Bung Karno bahkan menganggap Aceh ...
50.
| Soft Cover, Februari 2017 | |||||
|
Stock tidak tersedia
|
|||||
Mendesak Sukarno-Hatta untuk memproklamasikan kemerdekaan, Sutan Sjahrir justru absen dari peristiwa besar itu. Dia memilih jalan elegan untuk menghalau penjajah: jalur diplomasi—cara yang ditentang tokoh lain yang lebih radikal. Ideologinya, antifasis, dan antimiliter, dikritik hanya untuk kaum terdidik. Ia dituduh elitis.
Sejatinya, Sjahrir juga turun ke gubuk-gubuk, berkeliling Tanah Air menghimpun kader Partai Sosialis Indonesia. Sejarah telah menyingkirkan peran besar Bung Kecil ...
51.
| Soft Cover, Maret 2017 | |||||
|
Stock tidak tersedia
|
|||||
JIKA masih hidup, dan diminta melukiskan situasi sekarang, Mohammad Hatta hanya perlu mencetak ulang tulisannya yang terbit pada 1962: “Pembangunan tak berjalan sebagaimana semestinya.... Perkembangan demokrasi pun telantar karena percekcokan politik senantiasa. Pelaksanaan otonomi daerah terlalu lamban sehingga memicu pergolakan daerah”.
Demokrasi dapat berjalan baik, menurut Hatta, jika ada rasa tanggung jawab dan toleransi di kalangan pemimpin politik. Sebaliknya, kata dia, ...
52.
| Soft Cover, Februari 2017 | |||||
|
Stock tidak tersedia
|
|||||
"Empat puluh tahun sejak Sukarno meninggal, nama serta wajahnya tidak pernah benar-benar lumat terkubur. Kampanye puluhan tahun Orde Baru untuk membenamkannya justru hanya memperkuat kenangan orang akan kebesarannya.
Sukarno tak pernah berhenti menjadi ikon revolusi nasional Indonesia yang paling menonjol—mungkin seperti Che Guevara bagi Kuba. Di banyak rumah, foto-fotonya, kendati dalam kertas yang sudah menguning di balik kaca pigura yang buram, tidak pernah diturunkan dari dinding ...
53.
| Soft Cover, Agustus 2009 | |||||
|
Stock tidak tersedia
|
|||||
Buku sejarah-maritim yang menarik dan penuh humor, diungkapkan oleh Adelboorst (Taruna Laut) Indonesia. Kisah dimulai dari pengalaman selama pendidikan di Koninklijk Instituut voor de Marine (Institut Pendidikan Perwira AL Kerajaan Belanda) di Den Helder (sebagai salah satu hasil Konferensi Meja Bundar). Sekembali dari pendidikan, semangat para Adelborst harus terbentur karena penolakan oleh ALRI dan cap Made in Holland.
Mengisahkan juga tentang masa bakti mereka saat pergolakan politik ...
54.
| Soft Cover, September 2008 | |||||
|
Stock tidak tersedia
|
|||||
Melalui buku, kita bisa bertamasya (intelektual dan spiritual) ke manapun yang kita mau. Bahkan ke seluruh sudut-sudut terpencil dunia manapun. Baik yang telah dikunjungi manusia, didiami manusia atau bahkan sudah tidak didiami manusia. Di masa kini maupun di masa lampau.
#Dwiki Setiyawan#
Dalam tinjauan buku kali ini, saya akan mengajak pembaca untuk bertamasya sejenak ke masa abad-abad permulaan perkembangan Islam. Menelusuri lorong-lorong sejarah, yang pernah dilalui anak-anak ...
55.
| Soft Cover, 2001 | |||||
|
Stock tidak tersedia
|
|||||
Mendadak ketenangan di pagi hari Minggu itu dirobek oleh ledakan-ledakan bom, torpedo, senapan mesin, dan deru lebih dari 300 pesawat yang terbang menyambar-nyambar. Teriakan kematian, lidah-lidah api yang menjulang, asap hitam bergumpal-gumpal disertai derak-derak kehancuran melanda kawasan Pearl Harbor, pangkalan utama Angkatan Laut AS di Pasifik. Kejadian 8 Desember 1941 yang oleh orang Amerika acap disebut sebagai hari yang memalukan atau the day of infamy ini merupakan awal dari peperangan ...
56.
| Soft Cover, Februari 2017 | |||||
|
Stock tidak tersedia
|
|||||
"Chairil Anwar bukanlah sastrawan yang hanya merenung di balik meja lalu menulis puisi. Sajak “Diponegoro” yang petilannya menerakan kata-kata Maju Serbu Serang Terjang, misalnya, ia tuliskan untuk menggelorakan kembali semangat juang. Melalui sajak ini, ia mengungkap sosok Diponegoro yang kuat dan liat menghadapi Belanda. Chairil tegas melawan kolonialisme. Sebuah kutipan populer yang menandakan semangat itu terambil dari puisi itu: sekali berarti, sudah itu mati.
Sesudah kemerdekaan, ...
57.
| Soft Cover, Desember 2016 | |||||
|
Stock tidak tersedia
|
|||||
"Kepunan adalah drama-jarak-jauh berlatar situasi pra dan pasca-kemerdekaan di Musirawas antara tahun 1920-1983. Sebuah surat yang ditulis cucu laki-laki dari Fleur de Veidjn—putri pasangan Denis Veidjn dan Aziza alias Madam Veidjn—menjadi tabir pembuka sekaligus pemantik terbukanya kisah-kisah pribumi-Belanda: hubungan kontroleur dan pesirah yang menyerupai gunung berapi—tenang dan indah namun menyimpan lahar di dalamnya, sekolah privat yang hanya diikuti anak-anak gundik yang tampilan ...
58.
| Soft Cover, Februari 2017 | |||||
|
Stock tidak tersedia
|
|||||
Soe Hok-gie adalah seorang pemikir yang kritis, idealis, dan pemberontak. Catatan hariannya—yang dibukukan dalam Catatan Seorang Demonstran (1983)—merangkum semangat perlawanan yang tumbuh sejak ia duduk di bangku SMP. Gie pernah mendebat guru bahasa Indonesia lantaran berbeda pendapat soal pengarang prosa “Pulanglah Dia si Anak Hilang”. Lalu semasa SMA, ia memprotes kebijakan sekolahnya yang hanya menampung siswa dengan orangtua dari kalangan pejabat.
Gie sangat dikenang berkat ...
59.
| Soft Cover, Oktober 2016 | Rp. 65.000 | Rp. 48.750 (25% OFF) | |
|
Stock di Gudang Supplier
|
|||
60.
| Soft Cover, Januari 2017 | Rp. 95.000 | Rp. 76.000 (20% OFF) | |
|
Stock di Gudang Supplier
|
|||




Keranjang





