Canting adalah sebuah wadah tembaga untuk membatik. Ketika membatik, canting ditiup agar cairan lilin di dalamnya tetap meleleh. Canting memantulkan suara nafas peniupnya. Sebagai alat membatik tradisional, canting memiliki fungsi penting sebelum muncul batik jenis printing (batik cetak). Dengan nama alat itulah, roman Arswendo Atmowiloto ini dijuduli.
Canting berisi cerita tentang perjalanan hidup keluarga Ngabehi Sestrokusuma yang memiliki usaha pembatikan cap canting. Kepala keluarga adalah Raden Mas Daryono Sestrokusuma atau yang akrab dipanggil Pak Bei. Dengan Bu Bei, di nDalem Ngabean Sestrokusuman mereka berdua membesarkan enam orang anak; Wahyu Dewabrata, Lintang Dewanti, Bayu Dewasunu, Ismaya Dewakusuma, Wening Dewamurti, dan Subandini Dewaputri Sestrokusuma.
Dalam usaha pembatikan itu, yang memegang peran penting adalah Bu Bei. Bersama seratus dua puluh buruh batik dengan aneka tugas masing-masing, Bu Bei menjalankan usaha. Perjalanan usahanya berlangsung bertahun-tahun, sampai Bu Bei bisa membesarkan dan menyekolahkan anak-anaknya ke jenjang perguruan tinggi. Dan sampai buruh-buruh batik itu dapat menghidupi keluarga masing-masing seraya mengabdikan diri untuk keluarga Sestrokusuma. Bertahun-tahun.
Tidak seperti priyayi lainnya, Pak Bei adalah priyayi yang aneh. Aneh—karena ia berani mengambil sikap lain dari yang lain sampai dicap oleh priyayi-priyayi lainnya sebagai priyayi yang tidak nJawa. Namun, dalam keanehan itu terdapat sikap pasrah yang dijunjung tinggi olehnya. Hidup
... Baca Selengkapnya