Dalam semesta keilmuan Islam, nama al-Muhasibi (781–857) barangkali tak begitu bergema dibandingkan para juniornya, seperti Junaid al-Baghdadi (830–910), al-Ghazali (1058–1111), Syekh Abdul Qadir al-Jailani (1078–1166), atau Abu Hasan asy-Syadzili (1196–1258). Meski demikian, bagi para cendikia dan pengamal tasawuf, al-Muhasibi diakui sebagai perintis gagasan tasawuf moderat.
Al-Muhasibi mempersembahkan gugusan pemikiran yang cemerlang dalam ranah tasawuf melalui karya-karyanya, termasuk kitab at-Tawahhum yang kini Anda renungkan dalam nuansa bahasa Indonesia. Dalam helai demi helai petuahnya, tersirat dua pilar kokoh sebagai landasan spiritual yang tak tergoyahkan: khauf (rasa takut) dan raja’ (harapan)
Selaras dengan tajuk utama buku ini, jiwa kita diarahkan melintasi lorong-lorong kenikmatan sekaligus derita yang menyala penuh gelora, menciptakan kekuatan spiritual yang kokoh. Sehingga, terjalin harmoni jiwa yang indah, menorehkan warna kehidupan yang menakjubkan dalam balutan kasih sayang Allah.