Firman tumbuh dalam dunia kecil yang terasa utuh hingga sesuatu merenggut satu-satunya yang ia miliki. Sejak itu, yang tersisa hanyalah Firdaus, sebuah musala yang menyimpan lebih dari sekadar kenangan.
Di sana, kehangatan masa lalu masih terasa, tapi bersamaan dengan itu, muncul sesuatu yang sulit dijelaskan. Firman mulai menyadari bahwa tidak semua yang ditinggalkan benar-benar pergi. Makin lama ia kembali ke tempat itu, makin kuat perasaannya mengatakan bahwa ada sesuatu yang sengaja menunggu. Bukan sekadar untuk dikenang, tetapi untuk ditemukan. Mungkin kebenaran yang tersembunyi di dalamnya akan mengubah segalanya. Dan pada akhirnya Firman tidak hanya berhadap dengan kenangan, melainkan sebuah kebenaran yang tidak bisa dihindari.