Bayangkan seorang perempuan bangsawan Inggris abad ketujuh belas menerima karya empat pemikir termasyhur zamannya dan diminta menanggapinya lewat surat. Ia membedah pandangan Descartes tentang gerak dan tempat benda, serta menantang Hobbes yang meyakini indra, imajinasi, mimpi, dan pemahaman lahir semata dari tekanan benda luar terhadap tubuh. Sebagai gantinya, ia menyusun gagasan tentang materi tak terhingga yang bergerak dari dalam dirinya sendiri, sehingga alam semesta tergambar hidup dan berpengetahuan hingga ke partikel terkecil.
Buku ini, jilid pertama dari rangkaian surat tersebut, berlanjut dengan perdebatan bersama Henry More seputar keberadaan Tuhan, kekekalan jiwa, dan status roh tak berwujud, lalu menyinggung kimia Van Helmont tentang gas dan cahaya. Empat puluh lima surat pertama membangun fondasi metafisika, sedangkan tiga puluh empat surat berikutnya bergeser ke wilayah teologi dan jiwa. Dari meja tulis Margaret Cavendish (Duchess of Newcastle), lahirlah perdebatan lintas zaman yang mempertemukan filsafat, iman, dan keberanian menolak otoritas para pemikir besar sezamannya.