Pada zamannya, Srimulat adalah penari dan penyanyi yang jempolan. Ia juga pemain ketoprak maupun wayang orang yang mumpuni. Pun ia mampu melawak dan membintangi sejumlah film dengan elok. Ya, Srimulat adalah wanita yang memiliki aneka kelebihan, bahkan boleh dibilang ia telah meletakkan dasar-dasar seorang artis modern. Sementara Teguh, sang suami, adalah musikus yang memiliki kemampuan memimpin sekaligus mengelola kelompok musik dan lawak dengan tangguh, ulet, cakap, dan penuh energi. Dalam perjalanan hidupnya, pasangan seniman-seniwati ini meluncur dalam rombongan musik dan lawak. Sepeninggal Srimulat, Teguh berinisiatif memberi porsi lebih besar pada seni lawak dan bahkan menjunjungnya tinggi-tinggi. Dari waktu ke waktu Teguh "membudidayakan" pelawak di negeri ini. Boleh jadi, apa yang dia kerjakan merupakan hal unik, langka, atau bahkan mungkin satu-satunya di seantero bumi ini. Bagaimanapun, Teguh dan Srimulat telah menjadi satu. Teguh Srimulat! Mereka berdua bersama seluruh anak buah telah meninggalkan warisan seni budaya yang sungguh tak ternilai.
Teguh adalah seorang dalang yang baik. la memang orang di belakang layar yang tak perlu kelihatan. la berkarya lewat pelawak pelawak nya itu. -James Dananjaya
Teguh menemukan resep tontonan yang pas, yang dapat menampung bakat orang Indonesia dalam merembuk hidup. Hiburan yang dikemasnya tidak hanya berhenti pada ketawa. Pertunjukan Pertunjukan Srimulat membelai tetapi menggigit, mengulum tetapi menusuk. -Putu Wijaya
Kategori dan Rangking Bestseller:
Tentang Herry Gendut Janarto:
Lahir di Yogyakarta, 28 Mei 1958. Selepas dari SMAk Kolese de Britto tahun 1977, Herry melanjutkan pendidikan di IKIP Sanata Dharma dan lulus sebagai sarjana Pendidikan dan Satra Inggris tahun 1982. Ia sempat menjadi guru bahasa inggris selama setahun si SMAK Stella Duce, Yogyakarta. Bungsu dari tujuh bersaudara ini kemudian hijrah ke jakarta dan bekerja sebagai editor penerbitan buku PT Gaya Favorit Press (Femina Group) hingga 1990. Selanjutnya, ia bergabung menjadi wartawan tabloid Nova selama dua tahun, hingga 1992. Lalu sejak tahun 1993 sampai sekarang, ia mencurahkan perhatinnya ke dunia anak-anak dengan menjadi redaksi majalah Bobo. Di celah-celah kesibukkan menulis buku, Herry tetap berusaha menulis rupa-rupa artikel, juga cerita pendek di sejumlah koran, tabloid, dan majalah yang terbit di Ibukota maupun daerah. Penulis yang (memang) bertubuh subur ini punya semboyan hidup yang unik: daripada mencelakakan orang lain, lebih baik menertawakan kekonyolan sendiri.