Bagaimanakah peristiwa cinta berlangsung tanpa hapé, tanpa wi-fi, tanpa kafe, tanpa mall, dan tanpa drakor?
Cinta memang selalu misterius, seperti dirasakan siapa pun yang mengalaminya. Namun dengan segenap misterinya, dari masa ke masa gaya cinta itu berbeda-beda. Sebuah Pertanyaan untuk Cinta mengungkap kisah-kisah tjinta djadoel yang tak kalah seru dengan drama cinta hari ini. Terbit pertama kali pada 1996, inilah tanggapan pada masanya: Di dalam dunia rekaan Seno, cinta menjadi begitu haram dan jahanam.
Kisah semacam ini bukan sebuah ide yang orisinal, namun akan selalu menampilkan kepedihannya yang menyayat-nyayat, terutama jika yang menulis adalah Seno. —Leila S. Chudori, Harian Media Indonesia
Tema cinta Seno bukan tema cinta murahan. Dia mengemas dengan gaya elegan, dengan gaya yang mencoba masuk dalam kompleksitas manusia modern. Dan cinta memang kompleks, cinta bisa didefinisikan lewat berbagai cara. Jadi ini salah satu interpretasi lain tentang cinta oleh Seno. —Majalah Dewi
Apakah memang di Jakarta ini sudah tidak ada lagi cinta kasih sejati? Bagi orang-orang yang mengharapkan romantisme ala Cinderella dari buku ini jelas salah alamat. Namun bagi para pecinta sastra (baca: sastra koran) dan pengagum cerpen-cerpen Seno, rasanya sayang melewati buku ini begitu saja.
—Ike R. Sugianto, Harian Kompas
Tanggapan kiwari: Medium jatuh cinta memang terus berganti, tetapi perasaan sakit dan bahagia yang ditimbulkannya dari zaman ke zaman tetaplah sama. Cerpen-cerpen dalam buku ini mengabadikannya.
—Andina Dwifatma, novelis