Indonesia tidak sedang berperang, tetapi ia tidak mungkin terhindar dari tegangan geopolitik dunia. Ketika Selat Hormuz ditutup,harga energi melonjak, pengiriman bahan baku tersendat, nilai tukar tertekan, dan antrean BBM mengular di berbagai daerah.Ketegangan geopolitik karenanya dengan cepat menjelma menjadi persoalan bisnis.
Itulah dunia yang harus dihadapi para pemimpinhari ini: konflik, perang dagang, blokade, sanksi, disrupsi teknologi, dan perebutan sumber daya menjalar cepat ke urusan supplychain, arus kas, tenaga kerja, pasar, hingga keberlangsungan operasi. Pertanyaannya bukan lagi “Bagaimana kalau krisis itu terjadi?”,melainkan “Krisis itu sedang terjadi, siapkah kita menghadapinya?”
Buku ini dimulai dari pemetaan disorder global, lalu menawarkankerangka business continuity untuk membaca sinyal perubahan, memperkuat ketahanan internal, menyiapkan respons sebelum keadaan memburuk, dan mengambil keputusan ketika kepastian menghilang. Setiap bab dalam buku ini diarahkan pada satu tujuan: memastikan bisnis tidak sekadar bertahan, tetapi juga mampu bergerak dan bertumbuh dalam kekacauan global.
Ditujukan bagi pemimpin bisnis, pembuat kebijakan, aparat negara, mahasiswa, dan siapa pun yang bertanggung jawab atas ketahanan organisasi, buku ini menghubungkan ketegangan geopolitik dengan keputusan konkret yang harus segera diambil di lapangan. Sebab, di era ketidakpastian, kesiapan bukan lagi keunggulan tambahan. Kesiapan adalah syarat untuk bertahan hidup.