Jika Anda bertemu seorang lelaki dekat angka 40-an, bahu memanggul meja
lipat berlatar poster Barbie yang dililit isolasi cokelat serta white board
berkaki tiga, berkeliaran menjajakannya disekitar masjid Al-Hikmah, Way
Dadi, Bandar Lampung; demi Tuhan, mohon sampaikan saya menunggunya,
untuk mengembalikan haknya yang telah ‘terampas’.
Saya membeli meja mungil itu, sangat murah, Rp. 25.000, disebuah terik
bakda dzuhur, setelah tawar-menawar, selepas meniawab pertanyaannya
dengan kalimat, “Dari Mesuji!” Mematahkan harga Rp. 35.000 yang diminta.
Saya tahu, kata ‘Mesuji' sudah membuat rautnya bagai berjumpa singa
Iapar.
Ternyata, seorang sahabat menyebut saya menawar terlalu murah, si pedagang yang lelah itu mungkin tak lagi rnendapat untung. Adalah Rp. 35. 000
harga meja Iipat itu dipasaran!
la telah kehilangan upah lelah Rp. 10.000 yang mungkin sedang dinanti
anak-isterinya dengan penuh harap! Katakutannya terhadap kata Mesuji
berperan besar sebagai awal sesal, tak akan Iagi kuasa membuat senyurn
termakna.
ltulah pondasi dasar mengapa novel tak terlalu menarik ini hadir; kami bukan
mahluk bar-bar! Kami juga seperti dirimu, Saudaraku, mengibarkan bendera
setiap 17 Agustus, melaksanakan upacara, hafal Iagu Indonesia Raya, taat
pajak, aktif dalarn pemilu juga bangga pada batik.
Selembar lidah anginlah yang telah menghakimi kami!