Tiba-tiba Bram menoleh ke arah kanan, pandangannya menatap jauh. Matanya terpaku pada sosok orang yang menyusuri pantai dengan langkah-langkahnya
yang ringan. Seolah matanya tidak berkedip mengikuti sosok orang yang berjalan itu. Semakin dekat semakin pasti, seorang gadis yang berjalan sendiri. Tetapi
benarkah itu Hala? Benarkah, benarkah gadis itu Hala? Bukankah kemarin dulu, gadis Palestina yang telah begitu akrab dengannya itu telah mengucapkan kata selamat berpisah dan mungkin tidak akan bertemu lagi dengannya di Kairo, Alexandria, atau pun di seluruh Mesir?
Demikianlah sekelumit pergolakan batin Bram ketika menuntut ilmu di negeri Mesir, tempat ia menuntut ilmu bersambut getaran-getaran cinta. Getaran cinta yang
disambut baik dengan kenalannya, Hala, seorang gadis Palestina yang sedang berjuang untuk melepaskan negerinya dari belenggu penjajah. Garis hidup mereka
bersisian di negeri seribu menara ini, namun Tuhan tidak menakdirkan untuk bersisian selamanya. Bram harus kembali ke Indonesia, Hala harus meneruskan
perjuangannya di Palestina.