Bagaimana Cak Nun bisa tetap produktif dan energik hingga usianya saat ini dengan segala kesibukan
yang seakan tak ada habisnya?
Jika mendiskusikan tentang sosok Cak Nun, pertanyaan di atas adalah yang sering dilontarkan orang.
Mereka yang tetap sehat hingga usia senja tentu sangat banyak, kita bisa dengan mudah
menemukannya di sekeliling kita. Begitu pula dengan para tokoh yang usianya di atas Emha dengan
fisik bugar juga masih teramat banyak. Sosok Emha menjadi menarik karena kehidupan yang
dijalaninya penuh produktivitas dan kreatif, tetapi sangat jauh dari pakem standar kesehatan
modern.
Berawal dari pertanyaan besar di atas, dr. Ade Hashman, Sp.An.—dokter spesialis anestesi, yang
selama belasan tahun mengikuti forum Maiyah (secara offline)—melakukan riset, sejumlah
wawancara, penelusuran literasi dokumen tertulis ataupun audiovisual untuk meneropong “jalan
hidup” Emha.
Buku ini tidak berupaya untuk mempelajari Emha, melainkan justru belajar dari seorang Emha.
Seorang di antara tokoh yang punya kontribusi kemaslahatan sosial yang besar di negeri ini. Emha
adalah sosok polymath yang memiliki banyak khazanah mutiara dalam kehidupannya. Pribadinya
bermetamorfosis menjadi “manusia ruang”. Sambil mencoba menyelami makna kesehatan yang
paripurna—sehat fisik, mental, sosial, dan spiritual dalam kekayaan pribadinya—dr. Ade juga
mencoba berlayar menyisir rute-rute lain untuk menapaktilasi segala nilai, fatsun, dan filosofi ruang-
ruang lain dari seorang Emha.
Penulis sehari-hari adalah dokter spesialis anestesi di Kalimantan Timur.
Karya buku yang telah dipublikasi:
Mengobati dengan Hati, Blantika (2002).
Kenapa Rasulullah Saw. Tidak Pernah Sakit, Hikmah (2009).
Mengapa Rasulullah Tidak Pernah Sakit, Pts BHD Malaysia (2010 & 2018).
Karena Kita Begitu Berharga, Republika (2012).
Rahasia Kesehatan Rasulullah, Noura Books (2012).
Kitab Akhir Hayat, Republika (2016).
Yang berkenan urun rembuk “sinau bareng”, terutama memberi masukan dan kritik tentang isi buku ini, dapat menghubungi via Facebook: Ade Hashman.