Di luar banjir mulai surut, tapi di kamar sewa kami berukuran tiga kali
tiga ada yang terus menggelombang dahsyat. Gelombang lapar dan
lelah yang bisa membuat semua penghuninya frustasi. Dadaku mulai
berdebar, tapi kutahan, jari-jemari, pikiran dan perasaanku masih
berkutat pada akhir cerita sebuah keluarga bahagia. Kuhentikan
berjibaku dengan mesin ketikku, kulirik belahan jiwaku, pengobar
semangat hidupku. Ya Tuhan, kenapa dia? Anak itu memeluk kedua
lututnya. Buku kesayangannya sudah terlepas dari tangannya,
mengembang di permukaan air yang menggenang di lantai.