Sebagai buah pikir manusia, karya warisan Asy-Syafi'i--sebaik apa pun dan sehebat apa pun--tetap harus disikapi sebagai karya manusia yang tidak lepas dari kekurangan. Untuk itu, karya-karyanya sedapat mungkin diupayakan "dibaca" terus dan didialogkan dengan kekinian. Dengan demikian, kita tidak kehilangan masa lalu, dan ada kesinambungan antara masa lalu, saat ini, dan masa depan.
Bagian-bagian mana saja yang sudah sepatutnya kita dialogkan dengan waktu kekinian? Bagaimana caranya membawa warisan masa lampau itu ke masa sekarang: mencomot bagian-bagiannya yang penting saja kemudian meramu dengan keilmuan sekarang, ataukah meleburnya dan selanjutnya mencetak ulang dengan cita rasa yang berbeda?
Buku ini menyediakan jawaban atas permasalahan-permasalahan tersebut.