Vexia Reziella sangat menyukai biola. Dia bercita-cita menjadi pemain biola hebat dan terkenal, seperti kakeknya. Namun, ayahnya menolak keinginan itu. Beliau tega tidak mengizinkan Vexia bermain biola lagi.
Aha, Vexia tidak menyerah! Klub biola menjadi jalan terbaik baginya untuk menggapai cita-cita. Dia pun mengikuti klub itu secara sembunyi-sembunyi. Namun, salah seorang sahabatnya malah melaporkan hal itu kepada ayahnya. Dunianya pun hancur berkeping-keping seperti kepingan biola yang telah hancur.
Bagaimanakah sikap Vexia terhadap ayahnya? Seperti apa perasaannya terhadap sahabat yang telah melukainya? Apa yang akan dilakukannya? Baca buku ini sampai habis, yuk!