Emily Everything Happens For A Reason
MEREKA tidah hanya berlibur dengan tangan kanan dan kiri menenteng tas belanjaan atau berfoto di tempat-tempat yang belum tentu bisa semua orang singgahi di benua biru. Dinner, Romantic, kaviar, wine, dance, konser musik klasik, museum, gereja, hangunan-hangunan tua nan anggun, ice cream, cokelat, yang meleleh di mulut, ciuman, pelukan, menyusuri jalan-jalan sunyi, dengan pemandangan indah menakjubkan sambil sating berpegangan tangan. Selalu. Gemuruh angin musim gugur seolah redam semua erangan dan desahan cinta mereka yang penuh gelora. Tak semua orang bisa seberuntung itu. Hasrat dan kerinduan ternyata menghasilkan sensasi dahsyat. Ada malam-malam tertentu di mana mereka tidur di balik selimut cinta dan kehangatan. Ah... tubuh-tuhuh yang tak terhalang sehelai benang pun. Saling berpelukan di peraduan, syandu nan membuai hingga pagi datang menjelang.
Tak ada pesta yang tak usai. Pada suatu hari dalam hidupnya ketika semua berubah 360 derajat. Bahwa semua hal-hal indah itu berubah menjadi mimpi buruk. Hidup tak memberinya banyak pilihan. Tak perlu bicara agama, norma, atau budaya atau membawa nama-nama Tuhan jika akal dan logika digunakan. Lalu ketika harapan ialah kesia-siaan. Khayalan itu percuma. Mimpi itu tak datang lagi. Dan syurga itu hanyalah ilusi.
Sebuah novel romantik namun tak terduga dan tak terbayangkan. Novel yang bisa membuat terpana bahkan ketika sudah selesai membacanya.