Andai waktu bisa dipukul mundur, Adis ingin kembali ke masa dua bulan silam. Begitu banyak hal yang disesalinya. Begitu banyak hal yang ingin diperbaikinya. Pilihan yang diambilnya. Sikapnya. Perkataan yang keluar dari lisannya.
Ah!
Dua bulan. Perjalanan teramat singkat yang mengubah hidupnya seratus delapan puluh derajat.
Suara pembawa acara memanggil namanya, membuat Adis tersadar dari lamunan dan bersegera menaiki tangga menuju panggung. Tepuk tangan membahana mengiringi saat dia melintasi panggung. Senyuman tipis Adis berikan kepada tiga juri speech contest yang duduk di kursi paling depan.
Relax, Adis, you can do this, batinnya.
"Honorable judges, respected audience, and friends. Good morning. My name is Adistia Pitaloka and I'm here to tell you my story," kata Adis.
Iya, dia berada di panggung ini untuk menceritakan kisahnya.
Lucu juga, kadang kita akrab dengan seseorang selama bertahuntahun, tetapi tidak benar-benar mengenalnya. Dan kadang kita merasa tidak mengenal seseorang, tetapi anehnya orang tersebut lebih memahami diri kita.
Adis menyukai pagi hari saat sarapan bersama kedua orang tuanya. Hatinya penuh syukur karena memiliki keluarga harmonis. Namun, kesempurnaan itu semu karena tiba-tiba saja orang tuanya memutuskan berpisah. Adis menentang keras keputusan itu dan melakukan pemberontakan.
Adis yang dikenal sebagai siswa berprestasi mulai bolos dan melanggar aturan. Dia bahkan menjadi dekat dengan Liam, cowok bercitra buruk di sekolahnya. Perubahan ini membuat kedua sahabatnya khawatir dan bermaksud membantu, tetapi Adis menolaknya. Adis semakin menjauh, bahkan uluran tangan dari Rey, cowok yang diam-diam dia sukai selama ini, juga diabaikan.
Adis tidak sadar bahwa perbuatannya malah berakibat buruk bagi dirinya sendiri, dan membuatnya hampir kehilangan orang-orang yang dia cintai.
Tahun Terbit : Cetakan Pertama, November 2023