Kampung halaman memang bahan baku karangan yang mustajab. Namun, tak banyak pengarang yang mampu meramunya menjadi senarai cerita yang mengalir dengan takaran diksi yang tak neko-neko namun mengena. Tak berlebihan bila Hary B Kori'un saya katakan salah satu dari yang berhasil itu. Luka Tanah, buktinya!
(BENNY ARNAS, Pengarang)
Gagasan tentang entitas-entitas perbedaan (difference) dalam diskursus politik identitas kultural, adalah juga terkait tentang relasi-relasi kekuasaan politik etnis yang terjasi di banyak negara multikultural, termasuk Indonesia. Konflik tanah, misalnya, adalah simbolisasi yang kerap menyoal tak semata ihwal klaim atas kepemilikan benda, tetapi juga klaim atas "tanah" sebagai representasi nilai dari sebuah upaya penegasan identitas; pribumi- nonpribumi. Gagasan seputar tema ini, dibingkai berjalin dengan perselingkuhan "ideologis" para tokohnya dalam novel Luka Tanah. Sebuah novel "kontekstual", tempat bercermin wajah realitas kita hari ini.
(MARHALIM ZAINI, Sastrawan)
Sebuah novel dengan kepingan panduan yang kuat. Saya seperti merasa ada dalam putaran waktu yang baru saya jejaki semalam, mengingat pada koran-koran usang, mengingatkan pada ibu, mengingat pada kekasih, mengingat tanah ini, tanah yang luka...
(
YUDHI HERWIBOWO, Penulis Novel
Untung Surapati