Tidak ada yang memberi tahu bahwa menjadi dewasa ternyata serumit ini. Tidak ada yang benar-benar siap menjadi dewasa. Kita cuma berusaha terlihat kuat di tengah pekerjaan yang melelahkan, relasi yang rumit, dan ekspektasi yang tidak ada habisnya. Kadang kita tertawa di luar tapi retak di dalam. Kadang ingin berhenti, tapi dunia terus menuntut untuk berjalan terus. Setelah semua pencapaian dan rencana, masih ada rasa kosong, bingung, dan pertanyaan yang tak juga terjawab. Bahkan, tidak semua hal berjalan sesuai urutan: kuliah–kerja–menikah–bahagia. Kadang malah: kerja–burnout–healing–ulang dari nol. Melalui
Buku Contekan Saat Dewasa, Yosia Margaretta menulis dengan kejujuran yang menenangkan. Ia bercerita tentang lelahnya mengejar standar orang lain, tentang luka yang tidak terlihat tapi nyata, tentang rumah tangga, karier, dan pilihan hidup yang tidak selalu manis. Namun di antara segala kekacauan itu, ia menemukan hal-hal kecil yang menuntun: keberanian untuk berhenti sejenak, menerima diri sendiri, dan memaknai ulang arti cukup.
Jika dewasa ibarat ujian, buku ini hanyalah contekan kecil dari seseorang yang pernah gagal menghafal rumus hidup. Tidak ada kisi-kisi, tidak ada guru yang membimbing, tidak ada kunci jawaban. Kita hanya diminta menjalani setiap babak hidup tanpa tahu soalnya akan seperti apa. Menjadi dewasa bukan tentang selalu benar dalam menjawab, tapi tentang kesetiaan dan keberanian, bahkan saat persoalan hidup terasa mustahil.