Kita semua mungkin pernah kehilangan kesabaran: menghadapi anak tantrum, tidak mau mandi, atau berteriak-teriak di tempat umum. Namun, pernahkah terpikir oleh kita bahwa sebenarnya mereka bukan sedang menantang, melainkan berjuang untuk memahami dunia?
Buku ini mengajak kita untuk mulai mengubah cara pandang terhadap perilaku anak dengan cara baru: bukan dengan kemarahan, melainkan kesadaran. Karena anak akan belajar dengan cara paling baik ketika mereka merasa aman, dihargai, dan dipahami, bukan saat mereka dipermalukan atau disakiti.
Berbeda dari disiplin yang berbasis hukuman atau ancaman, Disiplin Positif mengajak kita untuk:
1. Membangun koneksi sebelum koreksi—memahami perasaan dan kebutuhan anak sebelum memberi arahan.
2. Menggunakan konsekuensi logis, bukan hukuman—anak diajak memahami hubungan antara tindakan dan akibatnya.
3. Menumbuhkan rasa tanggung jawab—bukan rasa takut.
4. Menghormati martabat anak, sambil tetap menetapkan batas yang jelas dan konsisten.
5. Menjadi teladan—karena anak belajar lebih banyak dari contoh dibanding kata-kata. Disiplin Positif bukan berarti membiarkan anak berbuat sesuka hati, melainkan menuntun mereka dengan cara yang tegas, lembut, dan penuh empati. Kita pun bisa berharap mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang sadar, peduli, dan mampu mengendalikan diri.
Selling Point:
Ditulis oleh praktisi pendidikan karakter dan disiplin positif, yang telah mengembangkan modul pelatihan disiplin positif hasil kolaborasi Yayasan Nusantara Sejati dengan UNICEF Indonesia. Aktif memfasilitasi pelatihan bagi guru, kepala sekolah, dan orangtua di berbagai wilayah.