Bagi sang Wali Kota, kekuasaan adalah segalanya. Selama menjabat, ia merasa bisa mengatur hukum, menggusur rakyat kecil, dan menimbun pundi-pundi kekayaan dengan satu goresan pena. Namun, maut tidak mengenal suap. Kini, ia terbangun bukan di kursi empuk kantornya, melainkan terbungkus kain kafan yang pengap—menjadi sesosok pocong. Mencoba melakukan "negosiasi" terakhir dengan Munkar dan Nakir demi tiket ke surga, Pak Wali justru diberi tugas yang lebih berat dari kampanye mana pun: Ia harus mendapatkan maaf tulus dari setiap jiwa yang pernah ia injak. Berharap pada sang istri yang dulu paling setia mendampingi, Pak Wali justru menemukan kenyataan pahit. Alih-alih membantu, sang istri ternyata telah lama menanti kematiannya dan kini memimpin perburuan untuk membinasakannya selamanya. Di dunia ia dipuja, di akhirat ia diburu. Blusukan terakhir Pak Wali baru saja dimulai, dan kali ini, nyawa taruhannya—untuk kedua kalinya.
***
Pernahkah Anda terpikir betapa menariknya dunia yang terbuka lebar lewat lembaran buku? Membaca bukan hanya kegiatan rutin, tetapi juga petualangan tak terbatas ke dalam imajinasi dan pengetahuan.
Membaca mengasah pikiran, membuka wawasan, dan memperkaya kosakata. Ini adalah pintu menuju dunia di luar kita yang tak terbatas.
Tetapkan waktu khusus untuk membaca setiap hari. Dari membaca sebelum tidur hingga menyempatkan waktu di pagi hari, kebiasaan membaca dapat dibentuk dengan konsistensi.
Pilih buku sesuai minat dan level literasi. Mulailah dengan buku yang sesuai dengan keinginan dan kemampuan membaca.
Temukan tempat yang tenang dan nyaman untuk membaca. Lampu yang cukup, kursi yang nyaman, dan sedikit musik pelataran bisa menciptakan pengalaman membaca yang lebih baik.
Buat catatan atau jurnal tentang buku yang telah Anda baca. Tuliskan pemikiran, kesan, dan pelajaran yang Anda dapatkan.