Namanya Kho Ping Hoo. Dalam bahasa Mandarin, Sie Ping He. Nama keduanya Asmaraman Sukowati. Di beberapa kesempatan, kedua nama itu menjadi satu kesatuan, Asmaraman Sukowati Kho Ping Hoo. Apakah untuk menunjukkan bahwa yang “dua” adalah “satu”, untuk menegaskan bahwa identitas yang satu mendahului kedua, atau untuk melindungi dan melingkupi satu sama lain—tak tahu persis.
Satu hal yang mungkin pasti adalah Kho Ping Hoo ingin hidup selamat dan bahagia. Barangkali, harapan itu pula yang menyertainya sejak awal melalui doa kedua orangtua. Sebagaimana hidup tak masuk akal dan serba kontradiktif, selamat dan bahagia tak bisa dijumpai secara linear dan cuma-cuma. Sebaliknya, tantangan kehidupanlah yang membuat manusia menemukan makna sejati keduanya. Kalau merdeka dari rahim ibu adalah tanda pertama keselamatan dan kebahagiaan, lalu bagaimana Kho, sebagai “anak pada zaman”-nya, menemukan tanda-tanda selamat dan bahagia sejati berikutnya?
Keunggulan:
Menyambut 100 tahun kelahiran maestro cerita silat Tionghoa-Indonesia, Kho Ping Hoo (Asmaraman Sukowati), buku ini mencoba:
• Mengumpulkan kembali fragmen-fragmen kehidupan yang membentuk sosoknya sehari-hari sekaligus gaya dan nilai penceritaan—baik dari penuturan keluarga, teman kerja, pembaca, arsip wawancara, dan catatan lain dalam konteks waktu Kho berkarya (1959-1992);
• Mengumpulkan judul-judul terbit cerita silat dan non-silat karya KPH;
• Bagaimana keunikan dalam membawakan cerita silat, dengan tokoh-tokoh yang kuat, teguh, dan jenaka, serta perubahan pola penceritaan dari soal balas dendam ke cinta kasih, tak lepas dari situasi sosial dan kehidupan yang serba tak pasti di sekitar KPH. Pada akhirnya, cara KPH merefleksikan kehidupan manusia (meliputi cinta, kebahagiaan, hingga kesengsaraan) tertuang melalui keasyikannya menulis cerita silat.