LEE MAN FONG (1913-1988) adalah pelukis Indonesia yang reputasinya menggetarkan jagat seni Asia. Presiden Sukarno sangat mengagumi, sehingga Lee Man Fong diangkat menjadi Pelukis Istana. Kisah hidupnya terlihat tenang, namun sesungguhnya sangat dinamis. Kemampuannya yang luar biasa pernah terhimpit soal-soal politis.
Lee Man Fong adalah pelukis besar Indonesia Raya. Sepanjang hidupnya, ia intens melukis segala yang ada dan bergerak di Indonesia nan luas. Dari suku Dayak di Kalimantan, kesibukan nelayan Bugis di Sulawesi, tukang sate dari Madura, bangunan tua di Batavia, sapi dan anak petani di persawahan Jawa, perayaaan Imlek di Garut. Ia melukis taferil kehidupan di Pulau Bali. Selain tentu ia melukis apa yang dilihat estetik di luar negeri dalam karya yang unik, fenomenal dan khas.
***
Pernahkah Anda terpikir betapa menariknya dunia yang terbuka lebar lewat lembaran buku? Membaca bukan hanya kegiatan rutin, tetapi juga petualangan tak terbatas ke dalam imajinasi dan pengetahuan.
Membaca mengasah pikiran, membuka wawasan, dan memperkaya kosakata. Ini adalah pintu menuju dunia di luar kita yang tak terbatas.
Tetapkan waktu khusus untuk membaca setiap hari. Dari membaca sebelum tidur hingga menyempatkan waktu di pagi hari, kebiasaan membaca dapat dibentuk dengan konsistensi.
Pilih buku sesuai minat dan level literasi. Mulailah dengan buku yang sesuai dengan keinginan dan kemampuan membaca.
Temukan tempat yang tenang dan nyaman untuk membaca. Lampu yang cukup, kursi yang nyaman, dan sedikit musik pelataran bisa menciptakan pengalaman membaca yang lebih baik.
Buat catatan atau jurnal tentang buku yang telah Anda baca. Tuliskan pemikiran, kesan, dan pelajaran yang Anda dapatkan.
Kategori dan Rangking Bestseller:
Tentang Agus Dermawan T.:
Kritikus seni rupa kelahiran Rogojampi (Jawa Timur), 29 April 1952 ini menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia "Asri" Yogyakarta. Menulis sejak 1974 dan lebih dari 1000 judul tulisannya telah dipublikasikan di Kompas, sinar Harapan, Suara Pembangunan, Media Indonesia, Tempo, Gatra, Femina, Editor, Horison, Republika dna sebagainya. Belasan buku monografinya telah terbit, di antaranya tentang pelukis Widajat, Basoeki Abdullah, Dullah, Dede Eri, Supria, Hendra Gunawan, Nyoman Gunarsa, Arie Smit, Krijono, Koempoel. Sebagai penggemar wisata ia kerap melakukan pinik seni rupa ke berbagai negara.