“Buku inspiratif yang dengan cantik memadukan ranah komunikasi, ranah budaya, dan ranah kesehatan. Keunikannya mencakup bahasan tentang Pandemi Covid-19.”
Prof. Dr. dr. Nila Djuwita Faried Anfasa Moeloek, SpM (K)
Menteri Kesehatan RI (2014-2019)
Ilmu kedokteran, biologi, matematika, psikologi, ilmu komunikasi, atau disiplin ilmu lainnya, hanyalah konstruksi manusia yang terus berubah. Perkembangan suatu disiplin ilmu akan mandek jika para ilmuwannya “etnosentrik”, menafikan pengaruh dari disiplin ilmu lainnya. Lewat buku yang langka ini Deddy Mulyana dan Leila Mona Ganiem menjembatani disiplin komunikasi antarbudaya dan disiplin ilmu kedokteran.
Prof. Dr. Ir. Satryo Soemantri Brodjonegoro
Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia, 2018-2023; Wakil Ketua Konsil Kedokteran Indonesia, 2014-2020
“Buku menarik yang menghidupkan kembali ungkapan klasik Bapak Ilmu Kedokteran Hipokrates bahwa pasien boleh jadi pulih kembali karena keramahan dokter. Keramahan dokter itu mau tidak mau harus diekpsresikan lewat komunikasi, baik secara verbal maupun secara nonverbal.”
Dr. Daeng M. Faqih, S.H., M.H.
Ketua Umum IDI (2018-2021)
PARA PENULIS
Deddy Mulyana, adalah Guru Besar dan Dekan ke-9 (2008-2012, 2012-2016) Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. Di fakultasnya ia menjadi Kepala Pusat Studi Komunikasi Kesehatan (2016-2018). Selama karier akademiknya, Deddy telah menjadi pembicara (kunci) di ratusan sesi seminar dan lokakarya di berbagai pelosok di Tanah Air, juga menjadi pembicara (kunci) di lebih dari 50 seminar internasional di lima benua. Ia telah menjadi Promotor, Ko-promotor, dan Oponen Ahli ratusan kandidat doktor di berbagai universitas di Indonesia (Unpad, UPI, UI, UGM, Unair, dan Unhas) dan Penguji Luar (External Examiner) lebih dari 80 kandidat doktor di Malaysia, Brunei Darussalam, India, Australia, dan Belanda. Deddy telah memperoleh berbagai penghargaan tingkat nasional dan internasional, a.l. Inspirational Award dari Pemerintah Australia (2009) sebagai salah satu alumni terbaik Australia yang berjasa luar biasa bagi pengembangan Ilmu Komunikasi di Indonesia; Satya Karya Bhakti Padjadjaran dari Rektor Universitas Padjadjaran (2009); Satya Karya Bakti 30 Tahun dari Presiden Republik Indonesia (2012); penghargaan kompetensi Public Relations dari ASEAN Public Relations Network kategori Managerial PR untuk akademisi ASEAN (2014); penghargaan tertinggi (empat bintang) dari Asosiasi Pendidikan Ilmu Komunikasi (Aspikom) Indonesia (2016); dan Anugerah Perhimpunan Hubungan Masyarakat (Perhumas) Indonesia untuk kategori Edukator Humas (2018).
Leila Mona Ganiem, berpengalaman selama enam tahun sebagai Komisioner di Konsil Kedokteran Indonesia (2014-2020) dalam pembuatan regulasi kedokteran dan pembinaan dokter serta dokter gigi di Indonesia; terlibat dalam penelitian terkait budaya (disertasi, tesis, dan lain-lain) serta seminar terkait kesehatan sejak 15 tahun lalu, membuat perpaduan komunikasi, kesehatan dan budaya merupakan hal yang menarik perhatian Leila Mona Ganiem. Sebagai akademisi dan praktisi komunikasi, Mona mengajar di Program Magister Komunikasi Universitas Mercu Buana dan di Fakultas Kedokteran Uhamka serta dosen tamu/pembicara di berbagai universitas di Indonesia (UI, ITB, IPB, Unpad, Undip, Unair, Unsoed, UGM, UIN Jakarta, UIN Sumatera Utara, UPN Veteran Jakarta, Universitas Paramadina, Universitas Atmajaya, Binus, Universitas Bandar Lampung, Universitas Jayabaya, Universitas Al Azhar, Universitas Pancasila, Universitas Islam Riau, BSI LSP, dan lain-lain).