BUKAN WABAH 15 MENIT
Untuk apa harus mati teramat cepat? Yang lahir ke dunia tak mungkin abadi. Kantong mayat tetap di bawah tanah menidurkan seturuh masa silam hayat dan sekujur masa depan sehalus mimpi.
Virus turun bagai wahyu yang mengerikan. Berapa jam harus berdoa seumur hidup? Bertadah tangan seakan berjatuhan roti dari celah-celah langit setelah menangis. Air mata sembab dan tengket di kutit pipi.
Hidup yang singkat terasa tak bisa sejenak. Berliku riwayat tampak sederhana dan fans. Saat batuk ada kesetamatan yang terlontar atau kebetulan terluput dari terkaman maut. Yang bernafas cuma mangsa bagi kematian.
Dengan apa mensyukuri atau menghujat semua bencana di dunia? Segala wabah bukan dari Iblis atau doa nabi yang baik hati. langkah dan kata tak habis mengisi cerita yang dikenang atau sama sekali dilupakan.
Tahta Sungkawa merupakan kumpulan puisi terbaru Binhad Nurrohmat. Ditulis ketika pandemi tengah berlangsung. Masa ketika bermiliar rasa khawatir dan ledakan statistik kematian bagaikan perayaan besar yang gaduh dan muram terjadi setiap hari dan yang tak mustahil menginfeksi kehidupan manusia. Menurutnya, hidup di masa pandemi membuatnya merasa menjadi makhluk berdarah dingin: asyik dengan kata dalam kesunyian dan kesendirian.
Menurutnya pula, puisi tak bisa dimangsa oleh pandemi apa pun dan penyair bisa mati kapan saja—selazim kodrat setiap kehidupan di dunia. Bila serupa organisme yang lain, puisi barangkali perlu vaksin, protokol kesehatan dan karantina agar selamat dari ancaman pandemi. Kesimpulannya, ternyata puisi lebih kebal ketimbang penyair di dunia yang kian rawan dan rentan ini.