Ini kisahnya Mariam dan Adhimas. Ini tentang Adhimas dan Mariam, dua orang yang sama-sama punya pemikiran gila tentang hidup sejak dikecewakan sosok bapak. Bagi Mariam, meninggalnya Bapak berarti mati separuh jiwanya, sedangkan hidup si Kribo--bapak tirinya--berarti kebangkitan dari setengah rasa bencinya. Sejak perginya Bapak, Mariam hidup luntang-lantung. Dia sudah menyediakan satu petak tanah makam untuk dirinya nanti karena tidak lagi bergairah sekadar untuk bernapas. Adhimas juga sudah menyiapkan surat panjang dan sepetak tanah
makam untuk dirinya. Tapi sebelum pergi, dia ingin menyelesaikan satu tanggung jawab pada Mariam. Setidaknya, Adhimas ingin sakit di jiwa Mariam bisa membaik dengan cinta dan pengertian yang dia beri. Sebab, bapak Adhimas juga ambil andil dalam runtuhnya hidup Mariam. Ini tentang kasih tak sampai. Sakit yang harus diobati. Dan kepergian yang direncanakan.