Sungai Batanghari ibarat urat nadi bagi peradaban kuno Suwarnadwipa. Sungai terpanjang di Pulau Sumatra sepanjang 800 kilometer tersebut mengalir dari hulu Bukit Barisan, tidak jauh dari pantai barat Sumatra ke pantai timur Sumatra, berhadapan dengan lalu lintas pelayaran tersibuk di Nusantara, Selat Malaka. Titik akhir pertemuan aliran Sungai Batanghari dengan jalur pelayaran timur (Cina) dan pelayaran dari barat (India, Arab, Persia) membentuk Peradaban Batanghari yang berpusat di Kawasan Percandian Muarajambi. Di sinilah berkembang sebuah kota kuno pusat pendidikan Buddha yang berkembang dari abad ke-6–13 M.
Keberadaan Kawasan Cagar Budaya Peringkat Nasional (KCBN) Muarajambi pada masa lalu erat kaitannya dengan sejarah daerah Jambi pada masa berdirinya Kerajaan Melayu dan Sriwijaya di Pulau Sumatra. Menilik potensi arkeologi yang dimilikinya, besar dugaan bahwa kawasan ini merupakan kawasan percandian agama Buddha yang masyhur pada masanya sehingga dikenal sampai ke mancanegara. Riwayat sejarah keberadaan kawasan ini diperoleh dari beberapa sumber autentik, dan yang paling signifikan adalah sumber yang berasal dari dalam maupun luar negeri.
Informasi tertua mengenai sejarah Jambi diperoleh dari kitab sejarah Dinasti Tang (618–906 M) yang menyebutkan kedatangan utusan Kerajaan Mo-lo-yeu ke Cina pada tahun 644 dan 645 M. Nama Mo-lo-yeu ini dapat dikaitkan dengan sebuah kerajaan tua bernama Malayu di pantai timur Sumatra, tempat bermuaranya aliran Sungai Batanghari.
Buku ini bukan sekadar kumpulan catatan, melainkan monumen literer yang mengabadikan napak tilas perjuangan besar bangsa Indonesia menghidupkan kembali pusaka peradaban terpentingnya. Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Muarajambi adalah jantung yang pernah berdetak kencang di Nusantara, saksi kejayaan Sriwijaya sebagai pusat ilmu pengetahuan dan spiritualitas Buddhis terbesar di Asia Tenggara, bahkan dunia, pada masanya. Fakta bahwa kawasan ini jauh lebih besar daripada Angkor Wat, seperti diungkap dalam buku, seharusnya membangkitkan keinsafan dan tekad kita bersama.