Pada 17 Agustus 1945, dua hari setelah Jepang menerima Deklarasi Potsdam, para komandan militer Jepang di berbagai daerah di Indonesia mengumumkan berakhirnya perang kepada seluruh pasukan Jepang. Namun, pengumuman itu tidak berarti bahwa senjata mereka langsung dilucuti. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya oleh Fujiyama, para prajurit tetap ditugaskan menjaga keamanan di berbagai daerah dengan dalih mengurus urusan pascakalah.
Tentara Jepang dibentuk dengan dasar disiplin dan moral yang ketat, tertanam dalam doktrin yang disebut Senjinkun (Instruksi di Medan Perang). Sejak pertama kali masuk dinas, para prajurit dicuci otaknya dengan semangat jiwa militer. Salah satu prinsipnya berbunyi, “Jangan hidup sebagai tawanan, dan jangan mati dengan meninggalkan aib.” Artinya, lebih baik mati daripada tertangkap. Doktrin ini begitu keras ditanamkan, bahkan setelah kekalahan Jepang, banyak prajurit dan warga sipil ikut terbunuh sia-sia karena tidak sanggup menerima realita. Tak sedikit tentara yang memilih bunuh diri saat mendengar kabar kekalahan.
Namun, beberapa mantan tentara Jepang menetap dan kemudian bergabung dengan pasukan kemerdekaan Indonesia. Mereka dapat diklasifikasikan sebagai bekas tentara Jepang, personel militer pendukung, dan warga sipil Jepang. Dalam buku ini, untuk kepraktisan, orang-orang yang dalam bentuk apa pun terlibat dalam Perang Pasifik dan kemudian menetap di berbagai wilayah Indonesia akan disebut secara kolektif sebagai “mantan tentara Jepang yang menetap”.
Setelah kekalahan Jepang, banyak dari mereka yang ikut serta dalam Perang Kemerdekaan Indonesia dan kini menjadi warga negara Indonesia. Dari sudut pandang Indonesia, mereka adalah pahlawan yang berjasa dalam perang kemerdekaan. Namun, menurut Hukum Pidana Militer Kekaisaran Jepang saat itu, tindakan mereka tergolong sebagai “pembelotan di hadapan musuh”, suatu pelanggaran berat yang pada masa sebelum perang dapat dihukum mati dengan tembak. Buku ini mengungkap apa arti “perang kemerdekaan” bagi tiap-tiap mantan tentara Jepang yang tinggal di Indonesia.