Dalam Semesta Nekra, cerita-cerita kecil berkelindan seperti bintang-bintang yang tampak terpisah, namun sesungguhnya terikat oleh satu takdir. Dari celah-celah ingatan kolektif itulah sosok Nekra Salabar hadir-mantan aktivis yang pernah diculik dan dilenyapkan oleh rezim, diserap ke dalam sistem kekuasaan, lalu memilih jalan pembangkangan. Dari kejatuhannya, tumbuh suara yang menolak diam. Nekra tidak berjalan sendiri. Ia hidup dalam tatapan para penjaga warung, sipir penjara, petani, buruh pabrik, satpam malam, penggali kubur, hingga pembunuh bayaran. Melalui suara-suara mereka, kisah ini menjelma mosaik: serpihan-serpihan kehidupan rakyat kecil yang lama dibungkam, kini saling menyambung dan berdenyut kembali. Di semesta ini, bisikan dapat berubah menjadi gema, dan keberanian lahir dari mereka yang paling jarang didengar. “Semesta Nekra memang suatu semesta, dengan banyak peran Aku di dalamnya: sepintas seperti saksi zaman, tetapi pelaku juga, sentral malah. Semesta Nekra seperti fiksi, dengan banyak fakta. Fiksi faktual? Segenap peran di sini, Aku maupun yang dihadapinya, sangat hidup. Seperti dikenal, bukan karangan. Jurnalisme sastrawi? Tidak pentinglah. Namun, mengapa yang faktual disamarkan? Inilah kunci. Semestanya jelas politik-betapa pun imajinatif juga, dengan prediksi masa depan yang layak ditengok; bahasanya bagus pula, dengan mutiara kata bertebaran nan serba-ironis. Bacaan berharga.” — SENO GUMIRA AJIDARMA, Sastrawan ***