Ilusi Sosial mencoba menyingkap cara kerja pikiran manusia ketika berhadapan dengan dunia sosial yang kompleks, penuh ketidakpastian, dan sarat kepentingan. Buku ini berangkat dari satu pertanyaan mendasar: mengapa manusia sering merasa berpikir rasional, bermoral, dan objektif, padahal dalam praktiknya justru mudah terjebak pada kesalahan penilaian, prasangka, dan keyakinan yang keliru? Melalui pendekatan psikologi sosial kontemporer, buku ini menunjukkan bahwa banyak dari keyakinan tersebut bukan semata hasil kebodohan atau niat buruk, melainkan konsekuensi dari mekanisme psikologis yang bekerja secara otomatis dan sering kali tak disadari.
Tidak berhenti pada level individu, buku ini juga menyoroti bagaimana ilusi sosial beroperasi dalam ruang sosial yang lebih luas, media sosial, demokrasi elektoral, dan diskursus publik. Dalam konteks Indonesia, buku ini memberi refleksi kritis tentang bagaimana dinamika psikologis tersebut membentuk perilaku warga, polarisasi politik, dan kualitas demokrasi.
Ditulis dengan bahasa yang jernih dan reflektif, Ilusi Sosial menjembatani dunia akademik dan pembaca umum. Buku ini tidak bertujuan menggurui, tetapi mengajak pembaca bercermin: mengenali batas rasionalitas diri sendiri, memahami kerentanan pikiran manusia, dan membuka kemungkinan untuk bersikap lebih rendah hati secara intelektual. Dengan memahami ilusi sosial, pembaca diharapkan tidak hanya menjadi lebih kritis terhadap dunia di sekitarnya, tetapi juga lebih bijak dalam menilai diri sendiri dan orang lain.