“Surat-surat Wasiat Mendiang Nana”, melampaui suatu laporan jurnalis, adalah percakapan batin manusia. Ia semacam “cek@ricek” terhadap diri sendiri: tentang batas kegetiran, kekuatan harapan, detik per detik waktu, denyut per denyut nadi.
Nana. Dipilih sebagai judul buku, diantara banyak nama besar dan peristiwa penting di negeri ini, menyiratkan ada dimensi etis yang mengendap pada subyektifitas seorang jurnalis: ada yang otentik pada setiap peristiwa, tapi pengalaman menghadapi maut dengan “cara Nana”, menggugah cara kita membedakan ketabahan dan ketakmungkinan, kegembiraan dan kegetiran.
Apakah Nana bergembira atau getir ketika menulis wasiat? Apakah kesederhanaan ekspresi Nana dalam kalimat-kalimat wasiat itu menyimpan ketabahan luar biasa menghadapi ketakmungkinan? Uraian teoretik filosofis dapat saya tulis, tetapi jurnalisme menyampaikan peristiwa manusia, sebagai renungan privat di tengah hiruk-pikuk berbagai isu publik besar.