Cinta seperti air, mengubah gersang menjadi sejuk. Cinta seperti matahari, mengubah gelap menjadi terang. Tapi, Nadia tidak percaya terhadap kekuatan itu hingga akhirnya ia kena batunya. Cinta tak hanya membuat Nadia jatuh ke taman yang dipenuhi dengan bunga-bunga, melainkan juga membawanya jatuh ke dalam lembah kesedihan yang bernama "patah hati".
Sayangnya, ujian hidup yang harus Nadia hadapi tidak hanya dalam hal cinta. Kegagalannya dalam seleksi beasiswa ke luar negeri turut memperburuk keadaannya. Untuk' mengobati kesedihan itu, Nadia mulai merintis usaha depot bunga yang selalu menjadi impiannya sejak awal kuliah. Berkat ketekunannya, usaha itu akhirnya berkembang. Namun, ujian yang harus dihadapi belum berhenti. Seseorang memfitnahnya menyelewengkan dana proyek kerja sama.
Di tengah keterpurukan dan keputusasaan yang melanda, seorang lelaki dari masa lalu datang mengulurkan tangannya untuk Nadia. Lelaki yang senyumnya telah terpatri selama bertahun-tahun di hati Nadia. Mampukah lelaki itu menjadi sandaran hidup Nadia yang tengah terpuruk dan menyambung kembali kepingan hati Nadia yang telah terkoyak? Atau, lelaki itu justru menorehkan luka yang lebih dalam?
Diramu dengan konflik yang kuat, novel ini mengajak kita menyusuri perjalanan hidup yang tak sekadar menapaki gunung terjal untuk menggapai pelangi, namun juga menyelam hingga dasar lautan untuk bersua dengan kegelapan!
Selamat membaca!
Ini adalah sebuah buku memoar perjalanan hati yang berkisah tentang kelahiran seorang anak yang merupakan salah satu karunia yang diberikan Allah kepada orang tua. Yang mana orang tua bertanggung jawab pada diri si anak untuk membesarkannya, sebagai renungan dalam buku ini bahwa tidak hanya orang tua yang selalu bertanggung jawab pada anaknya, tapi juga anak harus bertanggung jawab kepada orang tua dan keluarganya. Buku yang menceritakan sebuah keluarga yang selalu mendapatkan keprihatinan dan musibah dari keadaan yang menyiksa. Dalam hal ini si anak yang bernama Asa.
Asa lahir di Bantaran Kali Ciliwung yang berasal dari kaum marjinal asli kota Jakarta. Masa kecilnya yang selalu dirundung berbagai masalah dan cobaan. Akan tetapi Asa tidak pernah putus asa, dikarenakan dia memiliki Emak yang sangat luar biasa, yang selalu memberikan semangat dan kehangatan untuk bangkit dari berbagai sekelumit cobaan di dalam menjalani hidup.
Tiba-tiba saja penyakit aneh menyerang Asa sedari dia kanak-kanak, Asa tak pernah tahu penyakit apa yang selama ini mengganggu tubuhnya yang mungil. Asa mencoba untuk bertahan dan melawan kondisi yang dibantu oleh Emak.
Emak selalu memberikan dorongan dan motivasi untuk selalu bersabar, jangan pernah menyerah dengan segala himpitan ekonomi yang merajai, sesungguhnya kita punya Allah yang dapat memberikan segala upaya dan jalan dari ... Baca Selengkapnya