Dari aisthetikos yang dikaitkan dengan pencerapan, seni dan keindahan, kini estetika lebih sering dikaitkan dengan kebenaran eksistensial yang meredefinisi seni dan keindahan menjadi lebih dekat dan bahkan menyerupai kehidupan manusia itu sendiri. Ketidakpuasan serta kreativitas para seniman telah mendesak pengertian estetika jadi terus meluas. Nah, buku ini, sebagaimana diakui penulisnya, merupakan "stargate" bagi siapa pun yang ingin masuk ke wilayah ini. Bukan hal yang aneh bahwa belakangan, kajian soal estetika didominasi oleh para pemikir yang terlatih dalam filsafat dan membaca banyak teks, namun kurang intens bersentuhan langsung dengan karya seni. Setidaknya, buku ini bisa menjadi seruan agar "orang dalam" mulai menuliskan langsung apa yang mereka pahami tentang estetika dan perkembangannya, sebagai buah dari persentuhan langsungnya dengan seni.
—Alfathri Adlin
Penulis dan Editor Pustaka Matahari.
Saya selalu meyakini bahwa estetika tak akan pernah lepas dari konteks sosialnya. Buku Pengantar Sejarah dan Konsep Estetika ini memaparkan dengan cukup sederhana pengaruh estetika dari setiap masa, mulai dari peradaban Barat hingga Timur, bahkan disajikan pula pengaruh estetika Nusantara yang berkembang di Indonesia. Sangat cocok dibaca untuk yang ingin mulai mengkhidmati estetika.
—Idhar Resmadi,
Kritikus Musik, Penulis Buku, dan Dosen.