"Mas, aku ingin membuat pengakuan demi sebuah kejujuran. Hal ini betul-betul mengganjal hatiku. Aku berharap kau mau memaafkan aku. Aku... aku... su... dah... tidak pe...ra...wan... lagi, Mas."
Bagai disambar petir, Abimanyu langsung terenyak. Malam pengantin yang seharusnya begitu mendebarkan dan menggairahkan, kini menjadi malam yang penuh dengan kekecewaan. Malam yang menjadi titik awal perubahan jalan hidup Abimanyu, dari seorang pria jujur-lurus-setia menjadi lelaki petualang.
"Belilah keperawanan seorang gadis!" begitu Dian, istrinya, memohon di malam-malam dingin ranjang pengantin mereka. "Kalau itu satu-satunya jalan penyelamat perkawinan kita, aku rela."
Ide gila, itu reaksi awal Abimanyu. Namun, siapa yang menduga justru ide gila itulah awal petualangannya mengejar keperawanan seorang gadis demi sebuah keadilan. Ide gila itulah yang mempertemukannya dengan Retno Utari, wanita yang seratus persen masih perawan. Namun, siapa juga yang bisa menduga jika ternyata pertualangannya dengan Retno Utari justru menimbulkan persoalan baru dalam hidupnya.
Maria A. Sardjono sudah menulis sejak remaja tetapi baru dipublikasikan mulai tahun 1974. Hingga kini karyanya berjumlah 80 buku, sebagian dimuat sebagai cerita bersambung terlebih dulu, 150 cerpen, belasan cerita anak-anak, beberapa naskah sandiwara radio, satu buku ilmiah, dan puluhan artikel tentang berbagai macam topik. Ia adalah sarjana Filsafat Sosial Budaya dan master di bidang Filsafat Humaniora. Ia menikah dengan A.J.Sardjono dan dianugerahi empat putra yang semuanya sudah beranjak dewasa