Kalau ditinggal nikah?” tanya Tara.
Aji tertegun. Tatap matanya tajam menunjukkan ketidaksukaan. Banyak hal bisa ia sembunyikan, kecuali satu: ketakutan.
“Nggak sangup bayangin. Lagian, mau nikah sama siapa, sih?”
Tara menggigiti bawah bibir karena sadar pertanyaannya kelewatan. Mereka berdua diselimuti keheningan. Hanya jemari mereka yang bersepakat untuk saling genggam. Dalam diam, mereka berlari-lari di labirin kepala masing-masing.
“Jangan menikah sama orang lain, ya, Ra.”
“Iya, Ji.”
Mau nikah sama siapa juga kalau bukan sama kamu, sambung Tara dalam benak.
Tak peduli seberapa sempitnya tempat ini, pelukan pun langsung mendarat erat di tubuh Tara. Dalam pelukan Aji, Tara merasa sepenuhnya dipahami, dicintai, dan dilengkapi. Percakapan setelahnya adalah mimpi-mimpi yang akan mereka susun dengan tekad tumbuh bersama dan menciptakan cerita yang tak akan orang lain punya. Siang itu, dunia Tara berubah beda. Banyak harapan yang Tara gantungkan. Banyak ucapan yang diam-diam Tara semogakan.
Semoga kita menikah, ya, Ji.
Suci Patia, lahir di Sukabumi, 5 April 1996. Saat ini, ia masih menempuh pendidikan sarjana di Filsafat UI. Pada 2018, ia mengikuti ajang Abang None Jakarta Selatan. Hingga saat ini, hobi menulisnya sejak SMP menghasilkan 5 cerita untuk film pendek, novel Silver Linings, dan novel Sweet Falls. Aktif di Instagram dengan akun @suci.patia