Pencarian

Penulis
MUHYIDIN

Hasil: 21 - 24 dari 24
GRIDLIST
21.
Soft Cover, 2008
Stock tidak tersedia
Di era global warming ini, jatuh cinta dan pacaran telah menjadi lifestyle yang sangat lumrah di kalangan remaja Islam. Memang pada prinsipnya, cinta adalah fitrah manusia. Salah satu bentuk ekspresinya adalah pacaran. Namun, fitrah itu kini tampil sangat mengerikan lantaran ekspresi cinta telah ditingkahi acara peluk-pelukan, cium-ciuman, raba-rabaan, dan bahkan hamil-hamilan. Dan rupanya ekspresi fitrah cinta macam inilah yang sangat menguasai kehidupan para remaja masa kini, mulai dari ...
22.
Bibir Tersenyum, Hati Menangis oleh Muhammad Muhyidin
Soft Cover Rp. 78.000 Rp. 62.400 (20% OFF)
Stock di Gudang Supplier
Buku ini, meski judulnya menye-menye, tapi isinya sangat tegas. Saya pernah menjumpai buku dengan judul serupa yang pembahasannya sangat lembut dan lebih condong untuk dibaca akhwat. Namun, yang satu ini lebih menonjolkan Seberapa munafikkah aku ini-nya. Dalam buku ini banyak dibahas pula tentang interaksi dengan orang lain di masyarakat agar terhindar dari manis di bibir saja. Secara garis besar, buku ini menitikberatkan pada upaya kita sebagai manusia untuk menentukan pilihan hidup yang ...
23.
Soft Cover Rp. 132.000 Rp. 99.000 (25% OFF)
Stock di Gudang Supplier
Buku seri soal Mandiri (Mengasah Kemampuan Diri) Pendidikan Agama ISlam dan Budi Pekerti ini sangat tepat untuk dijadikan sebagai pelengkap dan pendamping buku teks Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti. Sebagai buku soal, buku ini didesain khusus agar siswa dapat mengasah kompetensi dirinya secara mandiri. Soal-soal yang dikemas dalam bentuk pilihan ganda, isian, dan uraian diberikan secara terkelompok sesuai dengan materi pelajaran yang ditetapkan dalam Kurikulum 2013 Revisi. Cirikhas buku ...
24.
No Image Available
Tangis Rindu Pada-Mu
Merajut Kebahagiaan dan Kesuksesan dengan Air Mata Spiritual
oleh Muhammad Muhyidin
Soft Cover
Stock tidak tersedia
Dalam hidup, kita pasti pernah menangis, karena berbagai sebab. Tetapi, pernahkah kita menumpahkan air mata, karena mengharapkan rahmat Allah, bahkan merindukan perjumpaan dengan Allah? Ataukah hati ini sudah teramat keras untuk menangis karena tersentuh nikmat Allah yang terhampar di hadapan kita? Jika seorang hamba sudah tak lagi mampu menangis karena takut dengan kekuasaan Allah, seperti kata Al-Ghazali, justru menangislah karena ketidakmampuan itu. Begitu mahalnya harga tetesan air mata ...