Segenap hidupnya tak lepas dari kenangan tentang masa-masa bergerilya
saat tergabung dalam kesatuan Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) di
hutan belantara Jawa Timur.Pergaulannya di masa kematangan sebagai lelaki
dewasa tak sungguh-sungguh keluar dari lingkaran kenangan tentang sangkur
dan desing peluru di masa revolusi kemerdekaan RI.IA tak tergiur untuk
menjadi birokrat,tak tertarik untuk berkarier sebagai tentara profesional,tidak
juga berpolitik,sebagaimana pilihan yang diambil oleh kebanyakan
kawan-kawannya.Nasib akhirnya mengantarkannya menjadi usahawan.
Meski begiru,ia tidak pernah meninggalkan TRIP.Orang-orang penting di
sekitar dunia yang digelutinya sebagian besar adalah mantan pelajar pejuang.
Ia bersetia pada kenangan.Hari-harinya adalah hari-hari merawat ingatan,
hingga ingatan demi ingatan itu menjelma sebagai stamina dan tenaga yang
terus menyala bagi hidupnya di usia senja.