| Soft Cover, Oktober 2017 | |||
|
Stock tidak tersedia
|
|||
22.
No Image Available
| Soft Cover, Oktober 2017 | Rp. 45.000 | Rp. 36.000 (20% OFF) | |
|
Stock di Gudang Supplier
|
|||
23.
| Soft Cover, Oktober 2017 | |||
|
Stock tidak tersedia
|
|||
Bentuk bakunya ''lembap'' (mengandung air, tidak kering benar), ''sembap'' (bengkak, balut), dan ''terjerembap'' (jatuh tertelungkup), bukan ''lembab'', ''sembab'', dan ''terjerembab''. (halaman 9)
Ada pendarahan, ada perdarahan.
Pendarahan = pengaliran darah.
Perdarahan = keadaan keluarnya banyak darah atau berdarah-darah. (halaman 16) ...
24.
| Soft Cover, September 2017 | |||
|
Stock tidak tersedia
|
|||
"Dari pada sudah panen langsung dibuang, kan bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak.'' Jerami bisa menjadi pakan ternak, bisa juga menjadi bahan pupuk organik cair, dan padat (kompos). Pemanfaatan jerami akan menjadi seperti siklus, dari pertanian kembali ke pertanian. Tapi, ada proses teknologi untuk menjadikannya seperti itu.
— Andi Aslam Patonangi, Bupati Pinrang
lnovasi di Kupang
"Taman Eden adalah mimpi saya, konsep membangun pemikiran untuk menanam apa saja di sana. Bisa ...
25.
| April 2017 | |||
|
Stock tidak tersedia
|
|||
"Buku Panduan Memilih Perguruan Tinggi ini tidak hanya dilengkapi dengan direktori perguruan tinggi di Indonesia, negeri dan swasta semata. Tetapi juga artikel seluk-beluk belajar di perguruan tinggi, menyiapkan biaya kuliah sejak dini, mencari peluang beasiswa hingga informasi berbagai jalur masuk perguruan tinggi dan tips memilih program studi sesuai dengan minat. Sementara direktori sendiri berisikan berbagai kampus di Indonesia mulai dari universitas, institut, akademi, politeknik hingga ...
26.
| April 2017 | |||
|
Stock tidak tersedia
|
|||
THE name of Sarwo Edhie Wibowo, alongside Suharto’s, rocketed to prominence after the political upheaval of 1965. As commander of the Army Para-Commando Regiment or RPKAD, Colonel Sarwo Edhie spearheaded the operations that would annihilate the PKI, the Indonesian Communist Party ...
27.
| April 2017 | |||
|
Stock tidak tersedia
|
|||
WHO was Sjam, a man with five aliases? Who was this native of Tuban, East Java, who was an atheist yet known to be good at reciting verses from the Qur’an? Was he a double agent or just a loyal follower of PKI Chairman D.N. Aidit? The G30S tragedy is a mystery whose secrets have never been fully uncovered. Sjam Kamaruzaman is an important figure in the chaos ...
28.
| April 2017 | |||
|
Stock tidak tersedia
|
|||
Setiap pembangunan niscaya membawa pergeseran nilai. Dan Bali tak luput dari hukum besi itu. Bahkan di sini -- sebuah kawasan yang paling gencar dilanda industri pariwisata -- gerak laju pergeseran nilai berjalan jauh lebih cepat dan bagi banyak pihak terasa mencemaskan: akan ke mana Bali dengan khasanah kebudayaannya yang luhur itu? Buku ini memotret perubahan sosial pada masyarakat Bali, dan penulisnya, Putu Setia, melalui perenungan dan pengamatan dari dekat, mempertanyakan perubahan sosial ...
29.
| April 2017 | |||
|
Stock tidak tersedia
|
|||
SETIAP tempat kerja adalah juga sebuah tempat belajar. Di mana saja. Di ruang-ruang kantor TEMPO, belajar adalah bagian dari tugas sehari-hari. Ini bukan sekedar sebuah catatan nostalgis tentang sebuah majalah yang kami kerjakan dan kami rawat baik-baik dan kemudian dibunuh pemerintah. Jika saya katakan belajar adalah bagian dari tugas, agaknya itu lumrah bagi TEMPO: TEMPO, sebagai majalah berita mingguan, adalah semacam pipa saluran: informasi mengalir masuk lewat pita rekaman wawancara, ...
30.
| April 2017 | |||
|
Stock tidak tersedia
|
|||
"Ramadan, bulan penuh berkah yang dinanti umat muslim. Banyak cara menyambut bulan nan suci ini. Diantaranya kita mengenal tradisi bersih-bersih menjelang Ramadan sebagai simbol penyucian diri di daerah Solo, Klaten, Yogyakarta dan sekitarnya terdapat mandi padusan, di Riau dikenal dengan mandi Balimau Kasai, daearah Banyumas suci diri dikenal dengan istilah nyadran, lalu dandangan di daerah Kudus, dugduren di Semarang, Meugang di Aceh.
Selama Ramadan masyarakat Bali mengenal tradisi ...
31.
| April 2017 | |||
|
Stock tidak tersedia
|
|||
"Pementasan wayang erat kaitannya dengan tradisi budaya di Indonesia. Namun kini wayang lebih merupakan pementasan seni. Pada mulanya wayang digunakan untuk menyebaran ajaran agama Islam. Terutama pada jenis wayang golek yang berkembang di Cirebon, Jawa Barat. Jika wayang golek bernafaskan ajaran Islam. Pementasan wayang kulit hadir bersamaaan dengan masuknya ajaran Hindu di Pulau Jawa. Hal ini berkaiatan dengan penokohan wayang kulit yang diangkat dari kisah klasik Mahabarata dan ...
32.
| April 2017 | |||
|
Stock tidak tersedia
|
|||
"It's about Tempo traveled of the Great Postal Road, from Anyer to Panarukan. To commemorate construction of historical highway.
Herman Willem Daendels, the Dutch East Indies 36th governor-general, sought to stamp out feudalism in traditional Indonesian society. Hence his disdain for any show of royal respect for the kings of Yogyakarta and Surakarta.
On May 5, 1808, he ordered the construction of the Great Postal Road (De Grote Postweg). The first stretch connected Buitenzorg ...
33.
| April 2017 | |||
|
Stock tidak tersedia
|
|||
He was a boy scout with the Hizbul Wathan movement and a teacher at a Muhammadiyah school. But during the Japanese occupation, Sudirman enlisted in the military, where at the age of 29 he was elected commander of the People’s Defense Army. Remembered as a simple general who was close to his troops, Sudirman set the foundations of the Indonesian Military. ...
34.
| April 2017 | |||
|
Stock tidak tersedia
|
|||
DURING his 32 years in power Suharto had plenty of opportunities to do good and bad—which he did, alternately. However, there was a process which seemed to go on forever under his administration, the length of which could only be outdone by Cuba’s Fidel Castro. This process was centralization, and even personalization, with figurehead Suharto as the nucleus of the entire nation. ...
35.
| April 2017 | |||
|
Stock tidak tersedia
|
|||
Dan sampailah buku ini di tangan Anda. Lalu apa? Seketika meletakkannya di rak buku? Sekadar membolak-balik halamannya? Atau membaca tulisan satu-dua penulis yang Anda kenal. Atau mungkin Anda membaca sedikit, seperempat, separuh, atau sebagian besar buku ini. Bagi Tempo Institute—barangkali juga bagi Garuda Indonesia dan GE, yang menjadi mitra kami tahun ini—semua pilihan itu sepenuhnya milik Anda. Bila Anda tak membacanya sama sekali, satu kesempatan telah terbuang percuma. Anda terlewat ...
36.
| April 2017 | |||
|
Stock tidak tersedia
|
|||
Sutan Sjahrir was one of the seven Fathers of Indonesian Revolution. He urged Sukarno and Hatta to declare Indonesian independence although he himself was not present on the big day. He chose an elegant way to drive the Dutch out of Indonesia, a way which was opposed by the other Fathers of Indonesian Revolution. His anti-fascist, anti-military ideology was criticized ...
37.
| April 2017 | |||
|
Stock tidak tersedia
|
|||
SUKARNO, the nation’s first president, acknowledged that Haji Oemar Said Tjokroaminoto changed his life around. He was not only Sukarno’s father-in-law, he was also his political guru and of other independence movement leaders, such as Semaoen, Musso, Alimin and Kartosoewirjo. But in the end, the mentor of our founding fathers stood alone ...
38.
| April 2017 | |||
|
Stock tidak tersedia
|
|||
SEJARAH dibentuk oleh orang-orang tak bernama. Mereka beragam tanpa batas, silang surup, timbul lalu lenyap, dilanjutkan atau tidak. Tapi dalam politik pembebasan, massa yang tak bernama itu punya paradoksnya: ia menggerakkan, membentuk, melahirkan tokoh-tokoh. ...
39.
| April 2017 | |||
|
Stock tidak tersedia
|
|||
HE was the first important figure who conceived of and wrote about the Republic of Indonesia. Muhammad Yamin called him, “Father of the Republic of Indonesia.” Following the declaration of independence he mobilized the youth for a mass rally at the Ikada Square on September 19, 1945. Tan Malaka could be called Indonesia’s most mysterious independence figure. He lived on the run in 11 countries ...
40.
| April 2017 | |||
|
Stock tidak tersedia
|
|||
This book, Tempo attempted to view the events of 1965 from perspective of the killers. We have no intention of condemning or judging them. Indonesian politics at that time were extremely complex. Before the September tragedy, the conflict between the PK and other political parties had reached a boiling point. The PKI, feeling it had the upper hand, imposed various kinds of pressure on resodents who remained apolitical who espoused different political views. When the poweer dynamic ...




Keranjang






