pertama menganggap pendidikan sebagai pengembangan potensi
individu. Sementara pendekatan kedua cenderung melihat
pendidikan sebagai pewarisan nilai-nilai budaya. Sedangkan
pendekatan ketiga menganggap pendidikan sebagai interaksi antara
potensi dan budaya. Pendidikan mengacu kepada interaksi antara
pengembangan potensi dan budaya. Kedua proses itu berjalan
seiring, bersama-sama dan isi mengisi antara satu sama lain.
Dalam pendekatan pendidikan Islam, potensi individu adalah
karunia Tuhan yang merupakan fitrah. Sementara itu, nilai-nilai
budaya sebagai tatanan kehidupan islami adalah faktor Iuar yang
berada di lingkungan manusia. Sehubungan dengan itu, pendidikan
Islam harus mampu menyelaraskan pengembangan potensi
individu dengan pewarisan nilai-nilai budaya, mengacu kepada
petunjuk Tuhan tentang hakikat penciptaan, yaitu untuk mengabdi
kepada-Nya.
Di rentang pemahaman seperti itu pula, maka Islam mengidentikkan
aktivitas pendidikan dengan kewajiban agama. Kewajiban utama dan
pertama yang diamanatkan kepada setiap orangtua. Bapak dan lbu
ditempatkan sebagai pendidik kodrati yang dibebankan kewajiban
untuk meletakkan dasar-dasar akidah bagi putra-putri mereka.
Dengan demikian, pendidikan Islam menempatkan keluarga dan
rumah tangga sebagai institusi pendidikan dasarnya.