INI AJAKAN UNTUK KITA SADAR, bunuh diri itu persoalan kita semua. Bukan tujuan yang muluk-muluk, tetapi yang terpenting, pada penghujung buku ini kita sepakati bersama bahwa bunuh diri dapat dicegah. Namun, bagaimana cara mencegahnya jika kita tidak mengetahui apakah seseorang berpotensi melakukan bunuh diri atau tidak? Dari sinilah kisah tragis dua mendiang pelukis muda ini menjadi awal pengetahuan kita tentang isu bunuh diri. Bunuh diri dapat mewariskan penyesalan tak berkesudahan bagi keluarga yang ditinggalkan. Ada sebuah rasa penasaran tentang apa penyebabnya dan kegalauan bahwa sesungguhnya mereka ternyata tidak pernah benar-benar mengenal sosok sang mendiang. Sangat mungkin juga keluarga tidak bisa menerima kenyataan. Dan, kondisi tidak berdamai dengan realita ini akan berdampak toksik bagi keberlangsungan keluarga pasca ditinggal bunuh diri.
Nova Riyanti Yusuf mengharapkan penelitiannya yang dibukukan ini mampu memberikan narasi tentang bunuh diri sebagai proses kompleks nan personal bagi setiap individu. Tentunya, tanpa menyudutkan siapapun. Apalagi, seperti yang terjadi selama ini, banyak dikotomi (ketika menilai suatu kasus bunuh diri) yang dilakukan oleh manusia sombong yang berani mencap manusia lain sebagai benar atau salah; suci atau kotor. Nova justru mengajak pembaca melihat manusia sebagai sebuah unit rumit, yang sesungguhnya dapat dipahami asalkan kita bersedia, mau bersabar, dan senantiasa berlandaskan kemanusiaan.
Semoga ada semacam pencerahan tentang betapa luas dan dalam pikiran, perasaan,
dan perilaku manusia. Hampir-hampir menjadi misteri yang tak bertepi. Semoga pula dari
pustaka inilah kita belajar memahaminya dalam konteks perilaku bunuh diri.
Penulis lahir di Palu, 27 November 1977. Meraih gelar dokter umum pada tahun 2002 dari Fakultas Kedokteran, Universitas Trisakti. Pada tahun 1995 mengikuti program menulis kreatif di The Writing School, Singapore.Sambil mengenyam program pendidikan spesialisasi Psikiatri (Ilmu Kedokteran Jiwa) di Universitas Indonesia sejak tahun 2004, karyanya pun sangat ilusif menelanjangi relung kejiwaan manusia. Bahkan latar belakang pendidikannya juga menjadi ciri khas gaya analisis penulisan kolom-kolomnya seputar isu-isu sosial di majalah Gatra.Sejak SMP secara tak sadar sering menghasilkan cerpen berbahasa Inggris hanya untuk koleksi pribadi. Semasa belajar di SMA Tarakanita I, Jakarta, aktif sebagai editor dan reporter majalah bahasa Inggris Starpura (Suara Tarakanita Pulo Raya). Semasa kuliah mendirikan media komunikasi KOMET (Komunikasi Medikal Trisakti) dan sempat menjadi Pemimpin Redaksi.