Sejak ditugaskan menumpas gerakan Darul Islam di Ciamis, batin dan pikiran Mim cukup tersiksa. Di tengah perang antar saudara itu, Mim justru menemukan serangkaian misteri. Salah satunya kehadiran Nun—perempuan setengah waras anak kepala dusun.
Suami Nun menjadi korban idealisme pembentukan Negara Islam oleh Kartosoewirjo ini. Namun, Mim berpikir perempuan ini hanya berpura-pura gila dan justru menjadi kunci dari semua kericuhan. Bagaimana Mim membuktikan bahwa Nun bukanlah perempuan gila seperti yang dipercaya orang-orang kampung?
Setelah beberapa kali insiden penyerangan, Mim menemukan ada musuh dalam selimut—ada warga yang menjadi pendukung para gerombolan. Bersama Nun, mampukah Mim membuktikan sebaliknya dan menumpas kelompok DI/TII sebelum makin banyak korban berjatuhan?
“Sebuah kisah yang berani memakai latar episode sejarah Indonesia yang tidak nyaman di tatar Sunda. Dituturkan dengan lancar melalui karakter yang kuat dan tekstur lokal. Mim dan Nun tidak hanya karakter huruf Arab yang bersebelahan, tapi adalah dua tokoh yang membangun cerita ini dengan cinta.”
—A. Fuadi, Penulis Anak Rantau dan Buya Hamka
“Menulis cerita berbalut sejarah bukan sesuatu yang mudah, jatuhnya akan membosankan jika penulis tidak lihai memainkan gaya bahasa, dan cerita ini berhasil menarik perhatianku dari chapter pertama sampai nggak sadar menamatkannya dalam sekali duduk. Sewaktu membaca, kepalaku dipenuhi pertanyaan, kenapa Mim dan
Nun seolah-olah seperti hidup sungguhan dan tebakanku ternyata benar. Cerita ini diangkat dari kisah nyata, itu sebabnya feel-nya sangat detail. Riset kepenulisannya juga harus diacungi jempol, dan menjadi alasan naskah ini aku unggulkan di Kompetisi Kwikku 2021. Selamat.”
—Erisca Febriani, Penulis Dear Nathan