Perkembangan teknologi membuka kesempatan penyaluran informasi lewat media-media baru, membuat dunia jurnalisme semakin marak. Akibatnya, semakin banyak orang yang bekerja di bidang jurnalisme dan semakin banyak pula pihak-pihak yang sering terlibat dengan pers, baik sebagai narasumber, reporter, maupun pembawa berita. Sayangnya, tak semua pihak yang terlibat di media saat ini dibekali dasar ilmu jurnalistik yang baik. Sering terjadi salah kutip, protes dari narasumber, pertanyaan wawancara yang kurang tajam, dan sebagainya.
Abdullah Alamudi lulusan Faculty of Commerce, University of Tasmania, Hobart, Australia, merintis karier melalui ABC/Radio Australia, Radio-Televisi Jepang/NHK, harian Pedoman, kantor berita Prancis Agence-France Presse (AFP); wartawan/produser Radio BBC, koresponden majalah Tempo, aktif di berbagai media seperti The Jakarta Post, Bisnis Indonesia, Warta Ekonomi, Metro TV. Pada Februari 2009, dia dianugerahi Distinguished Australian Alumni Award. Saat ini, dia adalah faculty member pada Lembaga Pers Dr. Soetomo (LPDS), sebuah lembaga pendidikan jurnalistik independen di bawah naungan Dewan Pers, dosen di Akademi Televisi Indonesia (ATVI) dan juga aktif sebagai pengurus Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI).