| Soft Cover, April 2021 | |||
|
Stock tidak tersedia
|
|||
1.
No Image Available
2.
| Soft Cover, Maret 2018 | |||
|
Stock tidak tersedia
|
|||
Rendra dijuluki “Si Burung Merak” bukan hanya karena pesonanya di atas panggung saja. Tapi, memang begitulah ia. Sesosok pribadi yang penuh vitalitas dan gairah. Seorang pecinta, bak merak yang merentangkan ekor cantiknya untuk menarik perhatian sang kekasih. Untuk merekalah, para kekasih, ia tuangkan cintanya lewat puisi. Di dalam buku ini, terangkum puisi-puisi cinta Rendra dari tiga masa. Puisi-puisi masa mudanya begitu sederhana, tapi manis dan jenaka. Puisi-puisi masa dewasanya terasa ...
3.
| Soft Cover, November 2017 | |||
|
Stock tidak tersedia
|
|||
Rio begitu terobsesi dengan mobil jeep hijau yang menghuni garasi rumahnya. Setiap saat, dia berharap bersama mobil itu akan mampu memupus kerinduannya kepada sosok bernama Indah. Tetapi, rasa sepi dan hampa malah makin menggigit.
Kuku mengemudi mobilnya kencang-kencang. Memacari seorang pembunuh adalah pilihan yang tak pernah ada dalam kamusnya, apalagi pembunuh yang mencabut nyawa kekasihnya.
Bagi Rio, Kuku, dan manusia-manusia lainnya, mobil jeep hijau itu bukanlah sekadar ...
4.
| Hard Cover, Mei 2017 | |||
|
Stock tidak tersedia
|
|||
Tokoh di dalam buku ini, Almustafa, hendak kembali ke negerinya dengan menaiki sebuah kapal. Keberangkatannya tertunda oleh pertanyaan-pertanyaan tentang misteri kehidupan yang diajukan oleh penduduk kota. Wejangan-wejangan yang disampaikan oleh Almustafa bertujuan untuk memerdekakan pikiran siapa pun yang menyimaknya. Almustafa—yang dalam edisi bahasa Inggris berjudul The Prophet—adalah mahakarya Gibran yang telah menginspirasi banyak orang, termasuk penyair ...
5.
| Soft Cover, September 2015 | |||
|
Stock tidak tersedia
|
|||
Kekasihku seperti burung murai suaranya merdu. Matanya kaca hatinya biru. Kekasihku seperti burung murai bersarang indah di dalam hati. Rendra dijuluki “Si Burung Merak” bukan hanya karena pesonanya di atas panggung saja. Tapi, memang begitulah ia. Sesosok pribadi yang penuh vitalitas dan gairah. Seorang pecinta, bak merak yang merentangkan ekor cantiknya untuk menarik perhatian sang kekasih. Untuk merekalah, para kekasih, ia tuangkan cintanya lewat ...
6.
| Soft Cover, Agustus 2015 | |||
|
Stock tidak tersedia
|
|||
Kau bacakah rinduku pada lengking klarinet sore hari. Jauh di seberang Kamogawa kala puluhan burung bangau meluncur senyap menyusuri kemilat kaca sungai ke utara. Ke Kitayama Kau bacakah hasratku pada liuk rumpun ilalang. Yang tumbuh memanjang seperti siang musim gugur. Bergetar bersama angin. Menarikan irama ricik sungai Seperti itulah, Nadia, jari jemariku bergetar. Seperti pertama kali lagi Menyusuri lekuk-lekuk malam. Mencari buah-buah ranum yang mereka rindu di peraduan Shugakuin *** ...
7.
| Soft Cover, Maret 2015 | |||
|
Stock tidak tersedia
|
|||
Dalam dunia politik, kata-kata bergulir, beredar dan mengelilingi meja-meja pengambil keputusan dalam makna yang sangat mentah. Tiada kemasakan, tak ada kedalaman, tanpa nuansa. Semua bahasa berkata secara pragmatis dengan maksud yang sangat praktis. Tiada lagi keindahan, estetika, hingga dalam cara berpolitiknya. Kultur dalam politik kian miskin, hingga pada tahap ia tidak lagi menjadi dasar (fundamen) bahkan dihindari dalam semua permainan politik yang dimainkan. Bahasa telah selesai, sebagai ...
8.
| Soft Cover, April 2013 | |||
|
Stock tidak tersedia
|
|||
Rendra, penyair legendaris negeri ini, telah lama berpulang. Namun, dia tidak sepenuhnya pergi. Ditinggalkannya alunan kata yang indah dan bertenaga bagi kita. Rendra bukan hanya seorang penyaji estetika. Dia turut menghadirkan realita di dalamnya. Perhatikanlah betapa puisi-puisinya selalu bicara tentang peristiwa di sekeliling kita. Tentang mulut-mulut yang terbungkam. Tentang orang-orang yang dirampas haknya. Tentang harapan mereka yang dilupakan. Namun, tak lupa pula dia membingkai rasa ...
9.
| Soft Cover, November 2007 | |||
|
Stock tidak tersedia
|
|||
Kumpulan Puisi
Sebagai seorang budayawan, penyair, sekaligus akademisi, Bakdi Soemanto berhasil mengelaborasikan kompleksitas dirinya itu ke dalam puisi-puisi yang kontemplatif. Dengan gaya bahasa yang jernih, Bakdi mampu membuat manusia, alam, dan Tuhan menjadi terjangkau oleh nalar kita tanpa harus dengan kernyit di kening. Puisi-puisi dalam buku ini ditulis dalam kurun waktu antara tahun 60-an hingga 80-an. ...
11.
No Image Available
| Soft Cover | |||
|
Stock tidak tersedia
|
|||
Rantau, sparring partner, silaturahmi, adalah tiga tradisi utama yang mewarnai perjalanan kepenyairan Raudal Tanjung Banua. Di sini ia mencoba merumuskan konsepsi personalnya tentang rantau sebagai jarak yang mendekatkan. Sesuatu yang semasa di kampung dianggap biasa, ketika diingat atau dikenang kembali, justru terasa baru. Tanda, lambang, dan nama-nama datang menggoda, membantunya mencipta idiom, metafora, dan gaya pengucapan; membuat perumpamaan, menghidupkan khazanah lama. Tradisi rantau ...
12.
No Image Available
| Soft Cover | |||
|
Stock tidak tersedia
|
|||
Tan Lioe Le mungkin bisa di sebut sebagai penyair pertama di Indonesia yang serius melakukan eksplorasi atas ritual dan mitologi Tionghoa untuk puisi. Ini dapat dibaca pada puisi-puisinya dalam buku ini, antara lain Co Kong Tik dan Cing Bing. Akan tetapi, nuansa etnik yang kental tak lantas membuat puisi-puisi Tan Lioe Le kehilangan daya pikatnya untuk khalayak yang luas. Karena bagaimanapun, puisi tetap saja perkasa melampaui batas-batas ...




Keranjang

