Francis Fukuyama, penulis buku fenomenal The End of History and the Last Man, kembali dengan karya terbarunya yang mengusung isu politik identitas. Menurutnya, setiap individu memiliki dorongan untuk dihormati dan diakui. Hasrat manusia akan pengakuan yang berakar kuat telah menjadi penyebab tirani, konflik, dan perang. Buku ini juga menunjukkan bagaimana pengakuan universal dalam konsep demokrasi liberal ditantang oleh bentuk pengakuan yang lebih sempit (berdasarkan atas bangsa, agama, sekte, ras, etnis, atau gender) yang telah mengakibatkan populisme anti-imigran, kebangkitan Islam yang terpolitisasi, serta fraksi-fraksi yang terpecah belah. Sebut saja gelombang Musim Semi Arab, Kampanye “Make America Great Again” Donald Trump, hingga Gerakan #MeToo yang memperluas pemahaman populer tentang kekerasan seksual. Identitas adalah karya yang mendesak dan wajib dibaca. Sebuah peringatan tajam bahwa jika kita enggan menempa pemahaman universal tentang martabat manusia, kita akan menghancurkan diri kita sendiri pada konflik kepentingan yang tak ada habisnya.
Sejak 2001 mengajar ekonomi-politik internasional pada Paul H. Nitze School of Advanced International Studies, Johns Hopkins University, Baltimore. Sebelumnya dia telah berkarir di berbagai lembaga seperti RAND Corporation, US Departement of State, dan George Mason University. Dia juga menjadi penasihat bagi The National Interest dan Journal of Democracy, serta beberapa lembaga pendidikan seperti The New America Foundation dan National Endowment for Democracy.