| Soft Cover, 2007 | |||
|
Stock tidak tersedia
|
|||
| Soft Cover, Mei 2003 | |||
|
Stock tidak tersedia
|
|||
| Soft Cover, Mei 2003 | |||
|
Stock tidak tersedia
|
|||
Liburan kali ini, Glora sekeluarga pergi ke kampung halaman Ibu, tepatnya ke rumah Nenek. Glora sudah lupa bagaimana keadaan rumah Nenek, karena selama ini biasanya Nenek tinggal bersama keluarganya di kota. Bulan lalu, tiba-tiba Nenek memutuskan untuk kembali ke rumahnya di desa.
Suatu hari, Glora diizinkan memasuki kamar Ibu sewaktu kecil. Banyak sekali koleksi komik, boneka, mainan, dan lainnya. Tapi, ada anak kecil perempuan berkepang dua yang tak dikenalnya. Anak itu menunjuk rak buku tua yang seperti tidak dibersihkan bertahun-tahun. Namun, belum sempat menyelidiki, Glora dipanggil Ibu.
Kian hari, rasa penasaran Glora semakin bertambah. Glora tahu anak perempuan itu tidak seperti anak biasanya. Kenapa anak itu menunjuk rak buku terbengkalai di kamar masa kecil Ibu? Apa yang disembunyikan Ibu dan Nenek di rumah itu?
">
Liburan kali ini, Glora sekeluarga pergi ke kampung halaman Ibu, tepatnya ke rumah Nenek. Glora sudah lupa bagaimana keadaan rumah Nenek, karena selama ini biasanya Nenek tinggal bersama keluarganya di kota. Bulan lalu, tiba-tiba Nenek memutuskan untuk kembali ke rumahnya di desa.
Suatu hari, Glora diizinkan memasuki kamar Ibu sewaktu kecil. Banyak sekali koleksi komik, boneka, mainan, dan lainnya. Tapi, ada anak kecil perempuan berkepang dua yang tak dikenalnya. Anak itu menunjuk rak buku tua yang seperti tidak dibersihkan bertahun-tahun. Namun, belum sempat menyelidiki, Glora dipanggil Ibu.
Kian hari, rasa penasaran Glora semakin bertambah. Glora tahu anak perempuan itu tidak seperti anak biasanya. Kenapa anak itu menunjuk rak buku terbengkalai di kamar masa kecil Ibu? Apa yang disembunyikan Ibu dan Nenek di rumah itu?
...“Kak, jam weker Kakak itu berhantu. Hantunya pendek,
berbaju putih, dan bermata merah!” Diky bergidik ngeri.
Sinta tidak percaya dengan perkataan adiknya.
Mana ada hantu jam weker? Jam itu, kan, hadiah dari Ayah dan Ibu.
Bentuknya imut, seperti kucing kesukaan Sinta. Dia sudah menginginkannya
sejak dulu. Tapi ..., semenjak jam weker itu datang,
Sinta banyak menemukan keanehan di kamarnya.
Pukul 03.00, angin bertiup kencang hingga jendela kamar
Sinta terbuka. Sebuah suara terdengar di telinganya ....
KRING, KRING, KRING!
Sinta terbangun kaget. Kenapa jam wekernya berdering sepagi ini?
Dia juga tidak merasa menyetel alarm.
Apakah perkataan Diky ada benarnya, ya?
Hm, benarkah jam weker itu berhantu?
Atau, hanya khalayan Diky? Penasaran, kan? Yuk, baca ceritanya!
Jangan sampai kalian juga ikut bergidik, ya!
">
“Kak, jam weker Kakak itu berhantu. Hantunya pendek,
berbaju putih, dan bermata merah!” Diky bergidik ngeri.
Sinta tidak percaya dengan perkataan adiknya.
Mana ada hantu jam weker? Jam itu, kan, hadiah dari Ayah dan Ibu.
Bentuknya imut, seperti kucing kesukaan Sinta. Dia sudah menginginkannya
sejak dulu. Tapi ..., semenjak jam weker itu datang,
Sinta banyak menemukan keanehan di kamarnya.
Pukul 03.00, angin bertiup kencang hingga jendela kamar
Sinta terbuka. Sebuah suara terdengar di telinganya ....
KRING, KRING, KRING!
Sinta terbangun kaget. Kenapa jam wekernya berdering sepagi ini?
Dia juga tidak merasa menyetel alarm.
Apakah perkataan Diky ada benarnya, ya?
Hm, benarkah jam weker itu berhantu?
Atau, hanya khalayan Diky? Penasaran, kan? Yuk, baca ceritanya!
Jangan sampai kalian juga ikut bergidik, ya!
Ketika Deryn dan Agatha mengunjungi Tugu Pahlawan di Surabaya, mereka tidak menyangka akan menemukan sebuah ruangan rahasia. Di sana, mereka bertemu Pak Joko, yang ternyata sudah membuat ruangan rahasia berisi peninggalan sejarah bangsa Indonesia. Tetapi, Pak Joko hanya menyimpan peninggalan dari mendiang ayahnya saja, salah satu pahlawan Indonesia. Sayangnya, satu-satunya foto ayah Pak Joko hilang. Terlebih, foto itu merupakan bagian dari dokumentasi menjelang kemerdekaan Indonesia. Pak Joko meminta bantuan Deryn dan Agatha untuk menemukannya. Sepanjang perjalanan mencari foto yang hilang, Deryn dan Agatha menelusuri monumen-monumen sejarah Indonesia di Surabaya. Mereka juga harus menyingkap ruangan-ruangan rahasia lainnya untuk menemukan potongan-potongan foto yang hilang. Berhasilkah mereka menemukan foto bersejarah tersebut? Adakah peristiwa lain yang akan mereka ungkap?
">
Ketika Deryn dan Agatha mengunjungi Tugu Pahlawan di Surabaya, mereka tidak menyangka akan menemukan sebuah ruangan rahasia. Di sana, mereka bertemu Pak Joko, yang ternyata sudah membuat ruangan rahasia berisi peninggalan sejarah bangsa Indonesia. Tetapi, Pak Joko hanya menyimpan peninggalan dari mendiang ayahnya saja, salah satu pahlawan Indonesia. Sayangnya, satu-satunya foto ayah Pak Joko hilang. Terlebih, foto itu merupakan bagian dari dokumentasi menjelang kemerdekaan Indonesia. Pak Joko meminta bantuan Deryn dan Agatha untuk menemukannya. Sepanjang perjalanan mencari foto yang hilang, Deryn dan Agatha menelusuri monumen-monumen sejarah Indonesia di Surabaya. Mereka juga harus menyingkap ruangan-ruangan rahasia lainnya untuk menemukan potongan-potongan foto yang hilang. Berhasilkah mereka menemukan foto bersejarah tersebut? Adakah peristiwa lain yang akan mereka ungkap?
...“Sana, pergi! Kami tidak mau main denganmu lagi!”
“Kukira kamu baik, tapi ternyata suka membocorkan rahasia teman sendiri!”
Kessie dimusuhi teman-teman sekelasnya karena munculnya akun
atas namanya. Pemilik akun palsu itu kerap mengunggah
foto-foto Kessie dan menulis hal-hal buruk di caption
tentang teman-teman sekelas Kessie.
Apalagi, pemilik akun palsu itu menyebut mereka sebagai pencuri,
penuduh, pengadu, dan sebutan buruk lainnya.
Tentu saja, teman-teman Kessie marah. Selain sedih karena dimusuhi,
Kessie juga kesal dengan pembuat akun fake itu.
Meskipun belum tahu siapa di balik akun itu, Kessie mencurigai seseorang,
yaitu Fira, anak pendiam yang lumayan pintar.
Setiap hari, Fira selalu curi-curi bermain HP di kelas. Itulah yang membuat Kessie
yakin bahwa Fira adalah pelaku dibalik fake account tersebut.
Namun, saat dituduh, dengan tegas, Fira mengelak dan mengatakan
kalau dia bukan pelakunya.
Aduh! Memang, siapa, sih, yang iseng membuat akun tidak bermanfaat seperti itu?
Ayo, kita selidiki bersama Kessie dalam buku ini!
">
“Sana, pergi! Kami tidak mau main denganmu lagi!”
“Kukira kamu baik, tapi ternyata suka membocorkan rahasia teman sendiri!”
Kessie dimusuhi teman-teman sekelasnya karena munculnya akun
atas namanya. Pemilik akun palsu itu kerap mengunggah
foto-foto Kessie dan menulis hal-hal buruk di caption
tentang teman-teman sekelas Kessie.
Apalagi, pemilik akun palsu itu menyebut mereka sebagai pencuri,
penuduh, pengadu, dan sebutan buruk lainnya.
Tentu saja, teman-teman Kessie marah. Selain sedih karena dimusuhi,
Kessie juga kesal dengan pembuat akun fake itu.
Meskipun belum tahu siapa di balik akun itu, Kessie mencurigai seseorang,
yaitu Fira, anak pendiam yang lumayan pintar.
Setiap hari, Fira selalu curi-curi bermain HP di kelas. Itulah yang membuat Kessie
yakin bahwa Fira adalah pelaku dibalik fake account tersebut.
Namun, saat dituduh, dengan tegas, Fira mengelak dan mengatakan
kalau dia bukan pelakunya.
Aduh! Memang, siapa, sih, yang iseng membuat akun tidak bermanfaat seperti itu?
Ayo, kita selidiki bersama Kessie dalam buku ini!
">
“Sana, pergi! Kami tidak mau main denganmu lagi!”
“Kukira kamu baik, tapi ternyata suka membocorkan rahasia teman sendiri!”
Kessie dimusuhi teman-teman sekelasnya karena munculnya akun
atas namanya. Pemilik akun palsu itu kerap mengunggah
foto-foto Kessie dan menulis hal-hal buruk di caption
tentang teman-teman sekelas Kessie.
Apalagi, pemilik akun palsu itu menyebut mereka sebagai pencuri,
penuduh, pengadu, dan sebutan buruk lainnya.
Tentu saja, teman-teman Kessie marah. Selain sedih karena dimusuhi,
Kessie juga kesal dengan pembuat akun fake itu.
Meskipun belum tahu siapa di balik akun itu, Kessie mencurigai seseorang,
yaitu Fira, anak pendiam yang lumayan pintar.
Setiap hari, Fira selalu curi-curi bermain HP di kelas. Itulah yang membuat Kessie
yakin bahwa Fira adalah pelaku dibalik fake account tersebut.
Namun, saat dituduh, dengan tegas, Fira mengelak dan mengatakan
kalau dia bukan pelakunya.
Aduh! Memang, siapa, sih, yang iseng membuat akun tidak bermanfaat seperti itu?
Ayo, kita selidiki bersama Kessie dalam buku ini!
">
“Sana, pergi! Kami tidak mau main denganmu lagi!”
“Kukira kamu baik, tapi ternyata suka membocorkan rahasia teman sendiri!”
Kessie dimusuhi teman-teman sekelasnya karena munculnya akun
atas namanya. Pemilik akun palsu itu kerap mengunggah
foto-foto Kessie dan menulis hal-hal buruk di caption
tentang teman-teman sekelas Kessie.
Apalagi, pemilik akun palsu itu menyebut mereka sebagai pencuri,
penuduh, pengadu, dan sebutan buruk lainnya.
Tentu saja, teman-teman Kessie marah. Selain sedih karena dimusuhi,
Kessie juga kesal dengan pembuat akun fake itu.
Meskipun belum tahu siapa di balik akun itu, Kessie mencurigai seseorang,
yaitu Fira, anak pendiam yang lumayan pintar.
Setiap hari, Fira selalu curi-curi bermain HP di kelas. Itulah yang membuat Kessie
yakin bahwa Fira adalah pelaku dibalik fake account tersebut.
Namun, saat dituduh, dengan tegas, Fira mengelak dan mengatakan
kalau dia bukan pelakunya.
Aduh! Memang, siapa, sih, yang iseng membuat akun tidak bermanfaat seperti itu?
Ayo, kita selidiki bersama Kessie dalam buku ini!




Keranjang






