| Soft Cover, 2017 | Rp. 79.500 | Rp. 63.600 (20% OFF) | |
|
Stock di Gudang Supplier
|
|||
| Soft Cover, 2013 | Rp. 59.000 | Rp. 47.200 (20% OFF) | |
|
Stock di Gudang Supplier
|
|||
| Soft Cover, 2007 | |||
|
Stock tidak tersedia
|
|||
Buku ini menyajikan dua wajah (umat) lslam kontemporer tabg dibidik melalui perspektif sosio-kultural. Dua wajah yang mewakili dua posisi berseberangan yang sama-sama mengklaim sebagai manifestasi ajaran lslam. Wajah pertama adalah wajah Islam yang ramah, bersahabat, toleran, dan inklusif yang siap hidup berdampingan dengan para penganut keyakinan yang berbeda dan dengan sendirinya melihat perbedaan sebagai rahmat. Sedangkan wajah kedua adalah wajah Islam yang garang, mudah marah, intoleran, dan ekslusif, sekaligus antagonis bagi wajah yang pertama. Bila umat Islam cendderung pada wajah kedua, berarti kita selaku umat membiarkan kemusnahan Islam menuju ambang pintu. Persis seperti diktum peringatan Muhammad'Abduh bahwa "Islam musnah karena umat Islam sendiri" (al-Islam mahjub bi al-muslimin). Melalui buku ini, Schwartz menawarkan sebuah "percakapan peradaban" (conversation of civilization) ketimbang sekadar benturan. Buku ini menyajikan data kontemporer yang sangat kaya, kutipan-kutipan dan analisis peristiwa-peristiwa historis yang memadai, serta paparan peta konstelasi gerakan terorisme internasional dengan ujung yang mengejutkan. Buku ini merupakan acuan penting dalam merenda masa depan umat Islam. Sekaligus mengembalikan Islam pada "khittah"-nya, ahmaan lil'alamin. Jika Islam memang agama yang keras dan agresif, tentu ia sudah musnah sejak lama sebagaimana dialami agama pagan.
...Setelah ia bangun dari tidurnya yang lelap, Sandi hanya mengingat namanya sendiri dan wajah sang ayah. Saat itu ia menemukan pesan dari ayahnya yang memintanya bertualang masuk ke dalam sebuah buku yang bisa mengembalikan seluruh ingatan dan jati dirinya. Mampukah Sandi mengembalikan semua itu? Atau ada hal lain yang disiapkan oleh sang ayah untuknya tentang nusantara.
">
Setelah ia bangun dari tidurnya yang lelap, Sandi hanya mengingat namanya sendiri dan wajah sang ayah. Saat itu ia menemukan pesan dari ayahnya yang memintanya bertualang masuk ke dalam sebuah buku yang bisa mengembalikan seluruh ingatan dan jati dirinya. Mampukah Sandi mengembalikan semua itu? Atau ada hal lain yang disiapkan oleh sang ayah untuknya tentang nusantara.
...




Keranjang


