Pada tahun 1879, sorang wanita pemberontak lahir dari rahim perempuan jelata bernama Nyai Ngasirah. Kartini namanya. Berbeda dengan kaum laki-laki yang melawan penjajah di medan perang, Kartini memberontak dari sebuah kerangkeng bernama pingitan. Tetapi justru melalui pingitan itulah ia mampu menebarkan pengaruh hebat hingga mengguuncang Eropa. Ia tidak bersenjata pedang, malainkan pena. Surat-surat yang ia tulis untuk para sahabatnya di Belanda membuka mata dunia. Di sana ia bicara tentang kesengsaraan pribumi, nasib kaum wanita, pendidikan di negeri jajahan, hingga kejahatan dibalik kedok Islam.