Surat ini adalah surat kedelapan belas yang kukirimkan untukmu. Yang tak satu pun kau balas, bahkan mungkin tak sempat kau baca.
Barangkali aku sudah gila. Mencintaimu, sama saja mengorbankan pikiranku sendiri. Aku tak tahu apakah ini benar. Yang kutahu cuma hal yang sederhana. Bahwa mencintai berarti memberi. Tanpa spasi, tanpa henti.
Hanya cinta yang ingin kuberikan, namun sayangnya itu pula yang ingin kau kembalikan.
Mungkin benar kata orang, jodoh itu ibarat barang yang hilang, Saat kucari, dia sembunyi dariku. Saat aku berhenti berlari, dia muncul di hadapanku.
Serumit apa pun itu, aku percaya dia akan datang padaku tepat waktu.